EUR/USD terlihat kembali melemah dan berada di sekitar level 1.1440 setelah turun di bawah 1.1500. Penguatan dolar AS secara luas menjadi faktor utama, didorong oleh kekhawatiran risiko geopolitik dan tekanan harga minyak. Analisis ini disusun oleh Cetro Trading Insight (Cetro) untuk memberikan pandangan yang lebih jelas bagi para pelaku pasar.
Pergerakan nilai tukar sering kali berayun mengikuti dinamika dolar, karena banyak transaksi global dihitung dalam mata uang tersebut. Indeks dolar AS (DXY) berada di sekitar 100.5, mendekati level tertinggi sepuluh bulan. Kondisi ini meningkatkan tekanan pada EUR dan menahan kenaikan EUR/USD yang sebelumnya sempat terlihat nyaris stabil.
Di sisi kebijakan, pasar menilai bahwa jalur suku bunga bisa lebih lama daripada ekspektasi awal, beriring dengan risiko biaya energi yang lebih tinggi. Meskipun beberapa bank sentral sempat mengisyaratkan kenaikan, fokus kini beralih ke dampak terhadap pertumbuhan akibat tingginya harga energi.
Permintaan minyak yang lebih tinggi menambah beban pada proyeksi kebijakan moneter, karena peningkatan biaya energi bisa membatasi laju ekonomi. Meskipun awalnya ada pembicaraan mengenai kenaikan suku bunga, pasar mulai menilai dampaknya terhadap prospek pertumbuhan. Dalam konteks Eropa, volatilitas energi menambah ketidakpastian terhadap laju penyesuaian kebijakan.
Data kalender AS, khususnya ISM Manufacturing PMI dan laporan Nonfarm Payrolls (NFP), menjadi fokus utama pekan ini. Hasil kedua indikator tersebut akan mengarahkan pandangan pasar terhadap jalur kebijakan Federal Reserve. CME FedWatch menunjukkan peluang relatif seimbang antara penahanan dan pengetatan, tergantung data yang keluar.
Pasar pada umumnya memperkirakan dua kenaikan suku bunga pada sisa tahun ini, meski itu bergantung pada bagaimana biaya energi memukul aktivitas ekonomi Eropa dan AS. Ketegangan geopolitik yang sedang berlangsung juga menambah risiko bagi prospek euro terhadap dolar dalam jangka pendek.
ISM PMI dan NFP menjadi fokus utama menjelang rilis data, karena hasilnya dapat menguatkan atau melemahkan pandangan bahwa Fed akan menahan kebijakan lebih lama. Angka yang kuat bisa menahan kejatuhan EURUSD lebih lanjut, sementara data lemah membuka peluang penurunan lebih dalam.
Di pasar valuta asing, dolar tetap mendapat dukungan dari narasi bahwa kebijakan Fed akan tetap restriktif hingga sekitar 2026. Ketika data AS datang mengecewakan, euro bisa mendapat titik temu terbatas karena gaya pengetatan kebijakan global yang relatif menurun. Sisi teknikal tetap menunjukkan EURUSD berada dalam bias penurunan jangka pendek.
Terlepas dari dinamika jangka pendek, para trader perlu menjaga manajemen risiko karena volatilitas bisa tetap tinggi. Rencana trading disarankan disesuaikan dengan target profit yang realistis sambil menjaga jarak stop loss sesuai toleransi risiko.