
EUR/USD turun mendekati 1.1618 pada sesi Eropa, tertekan oleh kebijakan harga minyak yang meningkat akibat ketegangan antara AS dan Iran. Ketegangan geopolitik meningkatkan permintaan terhadap dolar AS sebagai aset pelindung risiko, sehingga pasangan mata uang ini cenderung melemah terhadap greenback.
Harga minyak WTI naik sekitar 2.3 persen ke wilayah 93.80 dolar AS per barel, menandai kenaikan untuk hari ketiga berturut-turut. Pasar menilai respons militer terhadap ancaman Iran dan dinamika produksi minyak global tetap menjadi fokus utama, memperkuat dorongan terhadap dolar terhadap mata uang banyak mitra minyak impor.
Indeks Dolar AS, yang mengukur nilai dolar terhadap enam mata uang utama, terlihat menguat sekitar 0.12 persen menuju level 99.35, mendukung tekanan pada EUR. Para pelaku pasar juga mencermati langkah kebijakan ECB yang dapat menambah atau mengurangi daya tarik euro di tengah volatilitas harga energi.
Inflasi inti Zona euro untuk Mei dilaporkan tumbuh 2.5 persen secara tahunan, lebih tinggi dari perkiraan 2.4 persen dan berada di atas pembacaan sebelumnya. Data ini memperkuat ekspektasi pasar bahwa bank sentral Eropa tidak akan menunda langkah kenaikan suku bunga jika tekanan inflasi inti tetap bertahan.
Beberapa pejabat ECB, termasuk kepala bank sentral Belgia Pierre Wunsch, menyatakan bahwa argumen untuk menaikkan suku bunga tidak akan terpengaruh meski ada potensi kesepakatan damai antara AS dan Iran menjelang pertemuan kebijakan minggu depan. Perkembangan ini menambah unsur hawkish pada narasi ECB, meningkatkan daya tarik euro bagi sebagian investor yang memandang risiko Inflasi lebih tinggi.
Nilai tukar euro berpotensi menguat jika data inflasi inti tetap kuat dan prospek kebijakan ECB menampilkan jalur kenaikan, meskipun faktor geopolitik bisa membatasi pergerakannya. Pasar menilai bahwa tempo kenaikan suku bunga ECB bisa bertambah jika tekanan inflasi inti tidak mereda, memperkuat asumsi suku bunga lebih tinggi di masa depan.
Dukungan terhadap dolar berasal dari kenaikan harga minyak dan perkembangan geopolitik, sedangkan data inflasi serta komentar pejabat ECB menambah ketidakpastian arah euro. Dalam konteks ini, EUR/USD cenderung berada di bawah tekanan terhadap dolar AS jika dinamika energi dan geopolitik terus berlanjut.
Pelaku pasar menantikan rilis data serta pernyataan kebijakan yang akan datang untuk mengevaluasi arah tren saat ini. Reaksi terhadap pernyataan ECB bisa terjadi secara volatil, tergantung pada bagaimana faktor inflasi inti dan prospek suku bunga memetakan ulang ekspektasi imbal hasil.
Analisa sinyal trading untuk EURUSD menunjuk pada potensi posisi jual dengan tingkat pembukaan sekitar 1.1618, target sekitar 1.1550 dan stop loss di 1.1660, memenuhi rasio risiko-imbalan lebih dari 1:1.5. Strategi ini sejalan dengan kerangka fundamental saat ini, yang mengindikasikan penguatan dolar dan pelemahan euro jika tren ini berlanjut.