EURJPY melemah sekitar 0.15% di sesi Asia, mendekati level sekitar 182.40. Sentimen risiko didorong oleh peningkatan permintaan terhadap aset safe-haven berupa Yen Jepang, terutama ketika pasar Jepang libur nasional. Pergerakan ini juga membentuk suasana hati investor menjelang pembaruan kebijakan perdagangan global.
Selain itu, keputusan terkait kebijakan perdagangan menambah volatilitas pada pasangan mata uang ini. Lahan perdagangan global kini diwarnai ketidakpastian setelah berita bahwa langkah tarif 15% yang diusulkan AS mendapat sorotan internasional, sementara EU menunda persetujuan akhir perjanjian perdagangan hingga detail lebih lanjut terungkap. Hal-hal tersebut meningkatkan tekanan pada EURJPY secara umum.
Di sisi data domestik Jepang, data CPI nasional menunjukkan dinamika yang belum kuat untuk sinyal kenaikan suku bunga BoJ dalam waktu dekat. Secara YoY, CPI inti dan total menunjukkan pelambatan, sementara dinamika harga makanan segar tetap di jalur yang diharapkan. Kondisi ini mempertahankan narasi bahwa risiko kebijakan moneter volatil di Jepang masih ada dalam beberapa bulan mendatang.
Rilis PMI Februari dari indeks HCOB menunjukkan pemulihan, dengan Composite PMI berada di 51.9, lebih tinggi dari ekspektasi dan pembacaan sebelumnya. Angka ini menggarisbawahi tren peningkatan aktivitas bisnis di zona euro dan mitra globalnya. Kenaikan PMI mendukung pandangan ekonomi yang lebih sehat secara umum.
Sementara itu, EU menegaskan rencana untuk membekukan proses ratifikasi perjanjian perdagangan dengan AS hingga mereka menerima rincian lebih lanjut terkait kebijakan tarif baru Trump. Titik temu seperti ini menambah nuansa ketidakpastian di pasar namun juga memberi arah pada bagaimana para pelaku pasar menilai risiko-risiko terkait perdagangan global. Aspek ini membuat pergeseran sentimen terhadap EURJPY menjadi lebih kompleks.
Di ujung spektrum, pandangan terhadap kebijakan moneter di Jepang tetap berhati-hati karena data CPI yang lemah dan sinyal volatilitas menandai bahwa BoJ mungkin menilai opsi-opsi kebijakan di waktu dekat. Investor disarankan memperhatikan pergerakan harga, terutama jika data harga konsumsi nasional menunjukkan perubahan yang lebih signifikan. Dampaknya terhadap pair ini bergantung pada bagaimana kebijakan global dan risiko perdagangan berkembang ke depan.