Menurut analisis Andrzej Szczepaniak dari Nomura, inflasi HICP zona euro diperkirakan berada sedikit di bawah target 2,0% ECB pada paruh pertama 2026. Hasil ini didorong oleh efek basis harga energi yang menahan laju inflasi agar tidak melonjak secara signifikan. Menurut catatan Cetro Trading Insight, proyeksi ini selaras dengan konsensus pasar dan tidak menambah kejutan terhadap kebijakan ECB.
Faktor utama yang membentuk prospek ini adalah dinamika harga energi yang berada pada basis rendah. Efek basis ini menahan pembacaan inflasi inti sekaligus menjaga volatilitas tetap terkendali. Data inflasi Februari 2026 dari beberapa negara anggota menguatkan narasi bahwa dampak energi masih menjadi penggerak utama, meski intensitasnya tidak terlalu besar.
Namun, pandangan tersebut bukan tanpa risiko. Penilai menekankan bahwa jalur inflasi bisa berubah jika tekanan di pasar tenaga kerja meningkat dan upah naik lebih cepat dari potensi. Selain itu, perubahan kebijakan ECB dan faktor eksternal lain bisa menggeser lintasan inflasi meskipun base energy tetap menjadi komponen kunci.
Untuk 2027 dan 2028, risiko inflasi cenderung ke arah upside. Pasar tenaga kerja yang kuat diperkirakan memicu tekanan upah yang lebih tinggi dan mendorong pertumbuhan ekonomi di atas level potensial. Dalam konteks ini, risiko terhadap lintasan inflasi tetap perlu diawasi dengan seksama.
Pertumbuhan PDB yang melampaui kapasitas ekonomi dapat menambah tekanan harga secara luas, termasuk di sektor layanan. Tekanan upah yang berkelanjutan menjadi pendorong utama, karena perusahaan menyesuaikan tarif untuk mempertahankan tenaga kerja mereka. Selain itu, dinamika biaya energi global juga tetap relevan meskipun volatilitasnya mungkin berfluktuasi.
Para analis menekankan bahwa keputusan kebijakan moneter ECB akan menjadi variabel penentu. Jika harga energi dan layanan tidak menunjukkan pelonggaran cukup, maka jalur kebijakan bisa tetap lebih restriktif untuk menopang target inflasi. Namun, risiko eksternal seperti turbulensi pasar kerja dapat memperumit kepastian jalur kebijakan di masa depan.
Untuk Jerman, risiko terhadap proyeksi inflasi cenderung berbeda dari negara mitra karena dinamika harga energi dan potensi penurunan biaya listrik. Risiko ke bawah muncul jika harga energi turun lebih lanjut atau ada penurunan berkelanjutan pada tarif listrik. Meski demikian, ekspektasi inflasi di sektor jasa tetap menjadi komponen yang menahan kemajuan turun.
Di Prancis, lonjakan inflasi Februari diperkirakan sebagian besar disebabkan base effects terkait energi, dengan risiko penurunan jika harga energi yang diatur turun lebih lanjut. Sisi risiko ke bawah muncul jika regulasi harga energi menurunkan biaya bagi konsumen lebih cepat dari yang diperkirakan. Sementara itu, dinamika sektor layanan tetap menambah elemen ketidakpastian terhadap arah inflasi.
Sedangkan di Spanyol, risiko inflasi dipandang seimbang karena perubahan harga energi dan dinamika permintaan domestik berjalan seiring. Pembacaan data yang berimbang menutup pintu proyeksi yang terlalu optimistis maupun terlalu pesimis. Secara keseluruhan, konsensus pasar tetap memantau sinyal-sinyal yang bisa mengubah jalur inflasi zona euro ke depan.