Inflasi Zona Euro Dipicu Harga Energi Akibat Konflik Iran; Prospek 2.4%–3% di Q2 2026

Inflasi Zona Euro Dipicu Harga Energi Akibat Konflik Iran; Prospek 2.4%–3% di Q2 2026

trading sekarang

Data terbaru menunjukkan inflasi zona euro berada di 1.9% year-on-year pada Februari, dengan inflasi inti di 2.4%. Angka ini melampaui perkiraan banyak ekonom yang mengharapkan tekanan harga menurun. Menurut Cetro Trading Insight, sebagian kenaikan berasal dari lonjakan harga energi akibat eskalasi konflik di Iran, dan proyeksi menunjukkan inflasi bisa mencapai sekitar 2.4% pada kuartal kedua 2026, atau mendekati 3% jika Brent stabil di sekitar 100 dolar AS.

Faktor utama yang mendorong ini adalah biaya energi yang lebih tinggi, yang berimbas langsung pada harga bensin dan pemanas. Konflik di Iran telah menambah kekhawatiran pasar tentang biaya energi, menjadikan momentum inflasi lebih terasa pada tahap awal 2026. Meskipun fokus utama ada pada energi, pelaku pasar juga memantau bagaimana dampak tidak langsung terhadap komponen inflasi inti akan berkembang dalam waktu mendatang.

Di radar pasar, pergerakan Brent mengalami loncatan setelah tindakan militer, dengan harga di atas 80 dolar per barel. Dampak langsung terhadap harga energi menjelaskan sebagian besar tekanan inflasi dalam tiga bulan pertama, sementara efek tidak langsung bisa muncul di sektor lainnya. Jika konflik berlanjut dan harga minyak tetap tinggi, proyeksi inflasi bisa berubah secara signifikan, dengan skenario optimis sekitar 2.4% pada kuartal kedua dan potensi sekitar 3% jika Brent mencapai 100 dolar.

Sejak awal tahun, perubahan pada harga minyak menjadi faktor utama yang mempengaruhi tekanan inflasi di zona euro. Kenaikan harga minyak mendorong biaya bensin, gas rumah tangga, dan pemanas, sehingga menambah tekanan harga secara langsung. Dampak utama masih berpusat pada komponen energi, meskipun efek tidak langsung pada inflasi inti mulai terlihat melalui jalur biaya produksi.

Pasar menilai minyak berpotensi melewati fase konsolidasi menuju akhir tahun, terutama jika konflik tidak berlanjut lama. Dengan asumsi bahwa konflik tidak berkepanjangan, inflasi diproyeksikan mendekati 2.4% pada kuartal kedua. Namun, ketidakpastian mengenai bagaimana harga energi akan bergerak tetap ada dan dapat memicu variasi signifikan pada angka inflasi.

Jika perang berlanjut dan Brent bertahan di level tinggi sekitar 100 dolar per barel, inflasi zona euro dapat berada di sekitar 3% untuk sisa tahun. Risiko ini menyoroti bagaimana volatilitas energi bisa menular ke jalur inflasi inti melalui biaya transportasi dan input produksi. Dalam konteks kebijakan moneter, volatilitas ini menambah tekanan pada keputusan kebijakan ECB di masa mendatang.

ECB diperkirakan tidak akan segera menaikkan suku bunga meskipun inflasi sedikit lebih tinggi dari target dalam jangka pendek. Kebijakan ini mencerminkan penilaian atas durasi tekanan harga energi dan bagaimana hal itu mempengaruhi inflasi inti. Skenario ini mengasumsikan bahwa tekanan energi bersifat sementara, meskipun risiko inflasi lebih tinggi tetap ada jika konflik berlanjut.

Dalam praktiknya, rumah tangga dan perusahaan akan merasakan dampak biaya hidup yang lebih tinggi. Margin keuntungan bisa tertekan jika biaya input naik dan permintaan menurun. Estimasi jangka panjang untuk kembali ke target 2% mungkin memerlukan waktu lebih lama, sebagaimana disorot oleh analisis Cetro Trading Insight.

Secara keseluruhan, laporan menekankan pentingnya pemantauan harga energi serta dinamika geopolitik dalam membentuk prospek inflasi dan kebijakan moneter. Walaupun angka inflasi menunjukkan potensi tekanan, asumsi bahwa konflik tidak berlangsung lama tetap menjadi faktor utama dalam skenario kebijakan ECB. Risiko upside pada inflasi tetap ada jika harga minyak tetap tinggi, tetapi langkah-langkah kebijakan ECB dalam waktu dekat diperkirakan tetap hati-hati.

broker terbaik indonesia