Indeks DXY turun menuju kisaran 98.60 setelah investor menimbang laporan CPI AS terbaru. Laporan itu menunjukkan bahwa inflasi tetap tinggi meski beberapa komponen menunjukkan pelemahan, dengan tekanan utama berasal dari harga energi akibat konflik di Timur Tengah. Pasar menilai bahwa jalur kebijakan The Fed akan tetap berhati-hati meski sinyal pelonggaran mulai terlihat.
Ketegangan geopolitik terkait Iran dan Selat Hormuz menambah volatilitas minyak dan menjaga risiko pasokan tetap tinggi. Ketidakpastian tersebut memperkuat permintaan terhadap aset-asset safe-haven sekaligus mendorong pergeseran aliran modal ke mata uang utama. Secara umum, dinamika ini memperpanjang tekanan pada inflasi global dan menambah ruang bagi bank sentral untuk menilai langkah kebijakan.
EURUSD menguat mendekati 1.1730 setelah beberapa sesi bullish, menandai bias kenaikan yang terus berlanjut. Respons pasar terhadap CPI memperkuat ekspektasi bahwa volatilitas akan beralih ke sisi pendukung dolar lemah. Selain itu, narrowing rate differentials membuat ekspektasi pelonggaran bertahap Fed lebih menarik bagi pelaku pasar.
GBPUSD juga bergerak lebih tinggi ke area sekitar 1.3470, didorong oleh pelemahan USD dan arus ke aset berisiko. Meskipun ada beberapa kekhawatiran domestik, dinamika eksternal lebih dominan dalam menentukan arah pasangan ini. Pasar menilai bahwa sikap kebijakan suku bunga bank sentral utama akan tetap hati-hati dan sejalan dengan langkah pelonggaran secara bertahap jika tekanan inflasi mereda.
USDJPY tetap berada di sekitar 159.30 akibat melonjaknya imbal hasil AS dan pelemahan relatif dolar. Ketidakpastian geopolitik membatasi potensi rally yen. AUDUSD berada di sekitar 0.7080, mencoba menjaga momentum positif di tengah ketidakpastian risiko yang berfluktuasi.
Secara teknikal, pergerakan utama menunjukkan zona konsolidasi dengan peluang breakout bergantung pada rilis data ekonomi berikutnya. Investor menimbang arah dari pernyataan kebijakan bank sentral dan arahan suku bunga dalam beberapa minggu mendatang. Dengan likuiditas yang tetap tinggi, volatilitas bisa tetap tinggi meski arah jangka pendek masih belum jelas.
WTI diperdagangkan sekitar 96,40 dolar per barel dan tetap berisiko karena sentimen geopolitik di Timur Tengah. Ketegangan di Selat Hormuz dan prospek produksi OPEC+ menjadi faktor utama yang menjaga harga minyak tetap tinggi. Dampaknya terhadap inflasi global dan ekspektasi kebijakan moneter membuat investor tetap waspada.
Emas berada mendekati level sekitar 4.770 dolar per ounce, didorong oleh keinginan mencari perlindungan aset saat volatilitas naik. Kejatuhan imbal hasil menambah dukungan bagi logam kuning ini, meskipun potensi kenaikan lebih lanjut bisa terbatas jika sentimen risiko membaik dan yield membaik. Investor tetap memantau perkembangan geopolitik untuk menentukan apakah pembelian safe-haven akan berlanjut.
Kesimpulan teknis dan pandangan pasar kedepan menunjukkan bahwa data CPI, arah kebijakan Fed, dan komentar dari ECB serta BoE akan menjadi pendorong utama arah pasar. Laporan ini disusun oleh Cetro Trading Insight untuk membantu pembaca memahami peluang di pasar FX, komoditas, dan indeks makro. Risiko geopolitik terkait Timur Tengah dan dampaknya terhadap minyak serta inflasi tetap menjadi faktor penting yang perlu diperhatikan.