
EUR/USD bergerak melemah pada sesi Asia, mengikuti penguatan dolar AS akibat tekanan inflasi dan gejolak di Timur Tengah. Pasangan ini diperdagangkan sekitar 1.1650, menandai kelanjutan tren penurunan beberapa hari terakhir. Analisis pasar menunjukkan investor menimbang kemungkinan Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi untuk periode lebih lama atau bahkan menaikkan lagi jika tekanan inflasi berlanjut, menurut laporan dari Cetro Trading Insight.
Faktor utama adalah daya dorong dolar yang meningkat karena lonjakan inflasi terkait konflik regional. Kondisi ini memperkuat ekspektasi pasar bahwa Federal Reserve akan menjaga kebijakan hawkish, sehingga menekan EURUSD lebih lanjut. Kondisi geopolitik memperkaya narasi bahwa pergerakan harga akan ditentukan oleh dinamika kebijakan moneter Amerika Serikat dalam beberapa kuartal mendatang.
Walaupun tekanan turun masih ada, penurunan EUR/USD bisa dibatasi jika harapan mengenai perjanjian damai AS-Iran memudar dan Hormuz tetap tertutup, meningkatkan inflasi di zona euro. Analisis teknikal dan fundamental menunjukkan bahwa ada faktor pendukung bagi euro jika geopolitik mereda, namun tren utama tetap mengarah ke pelemahan jangka pendek pada pasangan ini.
Data ritel AS untuk April menunjukkan pertumbuhan 0,5% secara bulanan, sesuai estimasi, menegaskan taraf kekuatan belanja konsumsi meski biaya pinjaman tinggi. Pertumbuhan YoY mencapai 4,9%, melebihi ekspektasi 3,3% dan menegaskan bahwa konsumen tetap menjadi mesin utama perekonomian. Angka ini menambah landasan bagi bias hawkish Federal Reserve.
Langkah belanja konsumen yang masih kuat memperkuat alasan pasar untuk menaikkan imbalan pada investasi terkait dolar. Laporan ini juga membesarkan volatilitas di pasar valuta asing, terutama terhadap pasangan yang dipengaruhi kebijakan moneter seperti EURUSD. Dalam konteks ini, laporan menunjukkan dinamika permintaan rumah tangga tetap solid meski harga pinjaman meninggi.
Di sisi kebijakan, perubahan kepemimpinan di The Fed menjadi sorotan. Pengunduran diri Stephen Miran membuka peluang bagi Kevin Warsh untuk memimpin The Fed, menambah ketidakpastian terkait arah kebijakan. Perkembangan ini membantu menjelaskan pergerakan dolar yang menekan EURUSD, meskipun pasar juga menilai peluang testing terhadap ECB di masa depan.
Faktor geopolitik yang mengikat Hormuz meningkatkan tekanan inflasi di zona euro, memperkuat ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga ECB pada Juni. Pasar memperkirakan beberapa kenaikan suku bunga ECB hingga akhir 2026, meskipun jalur kebijakan tetap bergantung pada dinamika harga minyak dan laju inflasi. Analisa ini disampaikan sejalan dengan pernyataan para pejabat bank sentral di Eropa.
Pejabat ECB, termasuk Martins Kazaks, menekankan perlunya penyesuaian kebijakan jika harga minyak mengangkat inflasi. Keputusan ini menambah risiko bagi EURUSD jika perbedaan kebijakan antara Fed dan ECB melebar. Dengan demikian, fokus investor tetap pada arah suku bunga dan bagaimana hal itu mengubah kurva imbal hasil global.
Secara umum, analisa menunjukkan potensi penurunan lanjutan untuk EURUSD dalam jangka pendek, namun prospek kebijakan moneter dapat mengubah arah pasar jika faktor global berbalik. Manajemen risiko tetap penting, dengan rekomendasi menjaga rasio risiko-imbalan minimal 1:1.5 sesuai harga masuk 1.1650, target 1.1470, stop 1.1770.