Wawancara dengan CNBC menghadirkan pernyataan bahwa inflasi di sektor layanan masih belum terkendali. Goolsbee menegaskan bahwa dinamika harga pada layanan tetap menunjukkan kekuatan meskipun beberapa komponen inflasi turun karena efek basis. Hal ini menambah gambaran praktis tentang arah kebijakan moneter Federal Reserve.
Ia menyoroti perbedaan antara inflasi inti dan inflasi keseluruhan terkait biaya layanan dengan konten tarif yang cenderung lebih tinggi. Ketahanan inflasi layanan hadir meski beberapa angka utama turun, menandakan tekanan biaya pada tenaga kerja, layanan komunikasi, dan transportasi. Kondisi ini meningkatkan risiko perluasan siklus kebijakan jika data inflasi tidak bergerak menuju target.
Goolsbee juga menyatakan adanya kemungkinan beberapa pemangkasan suku bunga pada tahun 2026 jika inflasi kembali ke jalur 2 persen. Ia menganggap tingkat kebijakan sekitar 3 persen sebagai pendekatan yang longgar terhadap netralitas; artinya penurunan bertahap bisa dipertimbangkan seiring pembaruan data ekonomi. Pernyataan ini memperkaya diskusi tentang bagaimana Fed bisa menimbang antara kontrol inflasi dan dukungan pertumbuhan.
Kutipan tentang inflasi layanan yang belum terkendali membawa dampak bagi berbagai segmen pasar seperti obligasi, saham, dan mata uang. Ketidakpastian ini bisa menahan penurunan imbal hasil pada sisi jangka pendek namun meningkatkan volatilitas di sektor terkait. Investor akan menilai bagaimana layanan yang lebih mahal mempengaruhi daya beli dan pendapatan perusahaan.
Perbedaan antara inflasi inti dan inflasi keseluruhan berpengaruh pada ekspektasi kebijakan mereka. Biaya input dan dinamika permintaan memperkuat tekanan pada harga barang yang sensitif biaya tarif. Ekspektasi pelonggaran tergantung bagaimana inflasi bergerak menuju target 2 persen.
Secara makro, pernyataan Goolsbee mendorong pasar untuk menunggu konfirmasi data inflasi berikutnya dan bagaimana inflasi akan menyesuaikan jalur kebijakan. Peluang pelonggaran bertahap di 2026 bisa mengubah dinamika nilai tukar dan daya tarik aset berisiko. Investor disarankan mengikuti rilis data inflasi serta pidato pejabat Fed untuk menyusun strategi yang lebih tepat.
Pernyataan mengenai kemungkinan beberapa pemotongan suku bunga pada 2026 menunjukkan arah kebijakan yang lebih longgar jika inflasi kembali mendekati target. Pasar akan menimbang progres penurunan inflasi secara relatif terhadap kekhawatiran stagflasi global dan dinamika perdagangan. Kondisi ini menambah ketidakpastian bagi perencanaan investor jangka menengah.
Jika ekspektasi pemangkasan terwujud, dolar AS bisa melemah secara bertahap. Sementara itu, aset berimbalan hasil seperti obligasi akan menarik minat investor lebih besar daripada aset berisiko yang sensitif terhadap siklus. Namun, arah pasar sangat bergantung pada data inflasi mendatang dan cara Fed mengeksekusi pedoman kebijakan.
Secara teknikal, konvergensi antara optimisme pelonggaran dan rilis data inflasi akan membentuk peluang pada pasangan mata uang utama seperti EURUSD. Investor perlu menunggu konfirmasi data inflasi dan pernyataan kebijakan untuk menilai arah jangka menengah. Tanpa konfirmasi data, lebih bijak menghindari risiko berlebih sambil memantau rilis data utama.