Fed di 2026 Diperkirakan Tetap Hold dengan Satu Pemotongan pada 4Q26: Risiko Energi dan Inflasi Mengubah Jalur Kebijakan

trading sekarang

Analisis terbaru dari UOB mengindikasikan bahwa Federal Reserve kemungkinan menjaga kebijakan flat selama 2026. Proyeksi terbaru menunjukkan hanya satu potongan 25 basis poin pada kuartal keempat sebagai bagian dari jalur normalisasi. Perubahan dari ekspektasi dua kali potongan sebelumnya mencerminkan tekanan inflasi yang masih kuat dan dinamika tenaga kerja yang agak lamban.

Penundaan ini juga dipicu oleh dinamika harga energi yang lebih tinggi dan risiko geopolitik di Timur Tengah. Ketidakpastian di pasar energi berpotensi menahan langkah melonggarkan kebijakan lebih lanjut. Para analis menilai bahwa skenario ini akan membentuk kerangka kebijakan yang lebih berhati hati hingga akhir tahun mendatang.

Dalam skema terbaru, target suku bunga dana federal pada akhirnya diperkirakan mencapai 3.50 persen pada akhir 2026, lebih tinggi dari jalur sebelumnya. Meski begitu, risiko tetap condong ke arah pelonggaran yang terlambat atau bahkan tertunda jika tekanan inflasi tidak mereda sesuai harapan.

Kebijakan yang direvisi mencerminkan pandangan bahwa inflasi baru akan mulai menurun secara berarti pada paruh kedua 2026. Sementara itu, kelemahan pasar tenaga kerja diharapkan menjadi lebih jelas sepanjang periode yang sama, seiring dampak kenaikan biaya energi terhadap perekrutan dan penawaran pekerjaan.

Tekanan harga terkait energi membuat pelonggaran kebijakan menjadi lebih menantang. Gelombang harga minyak dan volatilitas energi dapat memperpanjang masa kebijakan netral, meski ekspektasi jangka menengah tetap menunjukkan arah pelonggaran di 2H26.

Revisi jalur kebijakan juga menegaskan bahwa tingginya risiko inflasi menahan penurunan suku bunga lebih lanjut. Proyeksi terminal di level 3.50 persen dianggap sebagai batas atas untuk akhir 2026, dengan ruang pelonggaran yang lebih kecil dari sebelumnya.

Ketegangan di Timur Tengah dan lonjakan harga minyak meningkatkan ketidakpastian jalur kebijakan. Dampak spillover ke keranjang CPI berpotensi memperbesar tekanan pada inflasi dan menunda jalur pelonggaran yang telah diperkirakan sebelumnya.

Investors akan berada pada kewaspadaan tinggi terhadap kemungkinan keterlambatan pemangkasan pertama atau bahkan ketidakmampuan untuk melonggarkan pada paruh kedua 2026 jika harga energi tetap tinggi. Kondisi tersebut bisa menahan aksi pasar terhadap aset berisiko dan instrumen proyeksi kebijakan moneter.

Secara keseluruhan, perubahan ini menandai adanya risiko bahwa pemangkasan akhir tahun bisa bergeser ke 2027. Kenaikan ketidakpastian pasar dan dinamika energi menjadi faktor utama yang perlu diperhatikan oleh pelaku pasar dan investor di semua kelas aset. Artikel ini disusun oleh tim Cetro Trading Insight.

banner footer