
Cetro Trading Insight melaporkan bahwa analis Bart Melek dari TD Securities menyoroti dampak serius gangguan di Selat Hormuz. Menurutnya, aliran minyak diperkirakan berkurang sekitar 9–10 juta barel per hari dari pasar global. Hal ini membuat harga Brent berada di sekitar $100 per barel dan berpotensi melonjak lebih dari $150 jika gangguan berlanjut.
Kekhawatiran utama adalah bahwa kekurangan pasokan bisa berlangsung lebih lama, ditambah biaya energi dan input yang lebih tinggi serta kendala logistik. Kondisi tersebut memperlihatkan risiko inflasi global yang lebih tinggi dan potensi stagflasi menjelang musim panas. Pihak pasar juga menilai bagaimana kebijakan moneter global akan merespons tekanan harga energi.
Disrupsi di Hormuz memperkuat skenario bahwa Brent bisa memasuki rentang harga yang lebih tinggi. Proyeksi ini menekankan bahwa pasokan fisik masih relatif rapuh, dan pemulihan aliran melalui jalur utama perdagangan minyak belum terlihat jelas. Jika situasi memburuk lebih lanjut, pasar bisa menghadapi kekurangan signifikan menuju musim panas.
Harga minyak yang tetap tinggi menambah beban pada biaya hidup global, karena biaya energi merupakan komponen utama inflasi. Pasar mengamati pergerakan harga sebagai penentu arah ekspektasi inflasi dan kebijakan suku bunga di berbagai negara. Ketika Brent bergerak di dekat atau melampaui level $100 per barel, tekanan pada biaya transportasi dan produksi meningkat.
Ketidakpastian seputar kelanjutan jalur pasokan Hormuz juga menambah volatilitas di pasar energi. Prospek bahwa Brent dapat mencapai $150 per barel atau lebih meningkatkan risiko inflasi yang lebih tinggi dan mempengaruhi keputusan bank sentral. Respons kebijakan fiskal dan moneter dapat menjadi lebih hati-hati dalam menghadapi tekanan harga energi.
Dalam konteks geopolitik, dinamika Washington-Teheran dan potensi gangguan kapal menambah risiko pasokan. Meskipun optimisme terlihat terkait penurunan harga minyak di waktu tertentu, kenyataannya adalah pasokan fisik minyak yang membatasi. Para pelaku pasar perlu memantau tanda-tanda normalisasi aliran untuk menilai arah jangka menengah.
Para investor menghadapi risiko geopolitik yang tinggi, dengan potensi pergeseran harga minyak secara tajam. Pasar menilai bahwa lonjakan harga dapat terjadi jika gangguan pasokan berlanjut; volatilitas akan tetap menjadi bagian dari perdagangan energi. Kesadaran risiko perlu ditingkatkan, terutama bagi portofolio yang terlalu terkonsentrasi pada energi.
Terlepas dari sinyal bahwa WTI sempat turun di bawah $100, kenyataan bahwa pasokan fisik menipis dapat menjaga tren kenaikan Brent. Pelaku pasar perlu memahami bahwa pergerakan harga minyak sangat bergantung pada faktor geopolitik dan dinamika pasokan. Pemantauan data inventori dan aktivitas kapal menjadi bagian penting dari analisis harian.
Strategi manajemen risiko menjadi kunci: gunakan rasio risiko/imbalan minimal 1:1.5, tentukan stop loss, dan pertimbangkan ambang harga masuk yang rasional. Perluasan posisi sejalan dengan konfirmasi pasar dan rencana keluar yang jelas menjadi bagian dari pendekatan profesional. Laporan ini disusun oleh Cetro Trading Insight.