GBP menguat terhadap sejumlah mata uang karena optimisme bahwa dampak konflik di Timur Tengah terhadap inflasi bisa lebih kecil dari perkiraan awal. Pergerakan harga minyak terlihat melemah, sehingga tekanan biaya energi dan inflasi menurun. Kondisi ini meningkatkan keyakinan bahwa prospek pertumbuhan global tidak sepenuhnya terganggu.
Laporan media menyebut IEA mempertimbangkan pelepasan cadangan minyak terbesar dalam sejarah untuk menstabilkan pasar. Langkah semacam ini dapat menahan lonjakan harga energi jika diperlukan, memperkuat suasana risk-on di pasar. Sementara itu, pernyataan Presiden AS mengenai kemungkinan penyelesaian konflik menambah optimisme terhadap aliran perdagangan global.
Di kawasan valuta asing, GBP/USD cenderung mengambil arah lebih kuat meski volatilitas tetap tinggi karena dinamika geopolitik. Analisis kami menilai dukungan terhadap sterling berasal dari ekspektasi bahwa BoE bisa menempuh jalur pelonggaran secara bertahap. Laporan ini disusun oleh Cetro Trading Insight untuk memberikan gambaran analitis yang dapat membantu pembaca awam memahami arah pasar.
Prospek kebijakan BoE turut membentuk arah pasangan GBPUSD. Beberapa lembaga riset seperti Standard Chartered dan Morgan Stanley menilai BoE bisa memulai pemangkasan suku bunga pada kuartal kedua, meski risiko inflasi tetap ada. Perubahan ekspektasi ini menggeser jalur kebijakan Inggris menjadi lebih lunak dibandingkan sebelumnya.
Kenaikan biaya energi menambah tekanan pada inflasi, sehingga BoE harus menimbang keseimbangan antara menjaga daya beli rumah tangga dan menahan laju cost of living. Meskipun demikian, volatilitas harga energi memberikan ruang bagi pelonggaran bertahap tanpa mengorbankan stabilitas ekonomi jangka menengah. Pasar menanti rilis data terkait inflasi di Inggris dan CPI AS sebagai konfirmasi arah.
Kondisi pasar menunjukkan probabilitas BoE menahan suku bunga pada bulan ini sangat tinggi, sementara potensi pemotongan terlihat pada kuartal kedua. Terminal rate diperkirakan sekitar 3.25% pada akhir 2026, sehingga Sterling dapat berposisi sebagai aset relatif defensif di kanal menengah. Namun, geopolitik tetap menjadi faktor utama yang bisa menggerakkan volatilitas GBPUSD.
Kenaikan fokus pada Iran dan potensi gangguan jalur Hormuz menjadi pusat perhatian investor. Ketidakpastian terkait pasokan energi bisa mendorong inflasi lebih tinggi dan mempengaruhi poros kebijakan moneter. Di sisi lain, jika upaya diplomatik berlanjut, tekanan inflasi bisa meredam dan volatilitas pasar melemah.
Pergerakan dolar AS juga memainkan peran krusial pada GBPUSD. Jika dolar tetap lemah karena sentimen risiko, GBP bisa menguat lebih lanjut terhadap USD. Namun jika ketegangan geopolitik meningkat, permintaan terhadap aset safe-haven bisa mendorong dolar dan membatasi kenaikan pound.
Secara teknikal, volatilitas bisa meningkat di kisaran tertentu meski fondasi fundamental cenderung mendukung sterling dalam jangka menengah. Data inflasi Inggris dan CPI AS menjadi kunci konfirmasi arah. Pembaca disarankan untuk memantau rilis tersebut dan menilai peluang beli atau jual berdasarkan volatilitas pasar; untuk saat ini kami tidak menyarankan aksi karena sinyalnya campur aduk.