Dalam konteks pasar mata uang, GBP/USD menunjukkan momentum positif meski fokus utama tetap pada pergerakan dolar AS. Pidato State of the Union yang disampaikan Presiden AS menjadi pemicu utama, dengan pasar menilai arah kebijakan fiskal dan prospek pertumbuhan. Ada petunjuk bahwa dolar bisa menguat lagi jika Federal Reserve mempertahankan suku bunga untuk periode yang cukup lama, sehingga dinamika ini menjadi faktor penentu bagi pasangan GBP/USD. Laporan ini disusun oleh Cetro Trading Insight untuk pembaca yang menginginkan gambaran menyeluruh tentang risiko dan peluang di pasar forex.
Di awal sesi Asia, GBP/USD diperdagangkan mendekati 1.3510, mencerminkan penguatan minor terhadap dolar yang sedang lemah. Rilis dari banyak pejabat bank sentral Amerika Serikat menambah spekulasi bahwa sikap kebijakan akan tetap akomodatif untuk saat ini. Pasar juga menimbang pernyataan para pejabat Federal Reserve tentang jalur kebijakan jangka menengah dan risiko inflasi yang membumi. Ketidakpastian ini membuat arah jangka pendek GBP/USD tetap rentan terhadap berita makro.
Di sisi Inggris, inflasi layanan menjadi fokus utama pelaku pasar. Bank of England mengakui bahwa pemotongan suku bunga pada bulan Maret masih 'pertanyaan terbuka' karena inflasi layanan berada di 4.4% pada Januari, jauh di atas proyeksi 4.1%. Ketidakpastian ini menambah volatilitas pada penilaian kebijakan moneter Inggris dan mempengaruhi sentimen investor terhadap pound. Analisis teknikal dan fundamental menunjukkan bahwa pergerakan GBP/USD dipengaruhi oleh dinamika domestik serta progres reform yang dibahas di parlemen.
Kebijakan BoE tetap menjadi sumber volatilitas bagi pasangan GBP/USD. Gubernur Andrew Bailey menegaskan bahwa pemotongan suku bunga pada Maret masih 'open question', menyusul tekanan inflasi jasa yang lebih kuat dari target. Pasar menilai bahwa sikap BoE bisa lebih berhati-hati daripada yang diabaikan, meski data lain menunjukkan tekanan biaya yang melambung. Pendapat ini mempertegas argumen bahwa jalur kebijakan Inggris masih penuh tanda tanya dan rentan terhadap data inflasi berikutnya.
Data Februari dari Confederation of British Industry menunjukkan letupan penurunan penjualan ritel dengan Retail Sales Balance di -43, lebih buruk dari ekspektasi. Volume ritel telah tertekan sejak pertengahan 2023, dan pelaku pasar memperkirakan permintaan domestik akan tetap lemah dalam beberapa kuartal ke depan. Peringatan tentang permintaan yang tidak kuat menambah kekhawatiran atas outlook pertumbuhan Inggris dan arah pound.
Chief Economist Huw Pill mengingatkan agar pasar tidak terjebak oleh pelemahan sementara materi inflasi inti yang turun menuju target 2%. Ia menggarisbawahi perlunya kehati-hatian dalam menilai pergerakan harga secara luas. Dalam pandangan ini, kebijakan moneter BoE tetap menjadi faktor utama yang menggerakkan GBP/USD, sementara risiko global dan perubahan data inflasi bisa memperkecil kejelasan arah pasangan tersebut.
Secara makro, banyak analis memperkirakan Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga dalam kisaran saat ini untuk beberapa waktu. Kebijakan AS seperti itu memberikan dukungan terhadap mata uang domestik dan menambah dinamika diferensial suku bunga yang memengaruhi GBP/USD. Pasar juga menilai bahwa perbedaan kebijakan antar bank sentral mempengaruhi permintaan terhadap pound dalam konteks ekonomi global yang lebih luas.
Gugatan perdagangan dan kebijakan perdagangan global juga menjadi bagian dari konteks ini. Administrasi Trump menyinggung kemungkinan menaikkan tarif terhadap negara yang dinilai ' bermain-main ' dengan perjanjian perdagangan, setelah pengadilan tertinggi membatasi sebagian dari levies. Ketegangan perdagangan seperti ini berpotensi menambah volatilitas pada GBP/USD melalui perubahan sentimen risiko dan aliran modal global.
Melihat ke depan, pergerakan GBP/USD dipandang tetap sensitif terhadap data inflasi layanan Inggris, juga pernyataan pejabat BoE serta arah kebijakan Fed. Skenario risiko-imbalan minimal 1:1.5 dapat dipertahankan jika data ekonomi mendukung arah yang jelas, namun analisis saat ini menunjukkan bahwa sinyal trading belum cukup kuat untuk rekomendasi beli atau jual. Oleh karena itu, sinyal saat ini adalah tidak ada rekomendasi untuk instrumen ini.