GBPUSD menunjukkan tekanan turun yang berlanjut akibat kombinasi kekuatan dolar AS dan data- data ekonomi Inggris yang lemah. Analisis oleh Cetro Trading Insight menekankan bahwa dorongan inflasi global dan ketegangan geopolitik memperkuat USD, sehingga pasangan ini bergerak di bawah level kunci. Pasar juga menunggu rilis data penting AS yang bisa mengubah ekspektasi kebijakan Federal Reserve.
Faktor inflasi dan ekspektasi penundaan pemangkasan suku bunga oleh Fed menjadi pendorong utama bagi dolar. Sinyal-sinyal ini muncul di tengah kekhawatiran pasar terhadap dampak geopolitik yang sedang berlangsung, yang meningkatkan permintaan terhadap aset safe-haven. Kondisi ini memicu pergeseran fokus dari faktor domestik UK ke volatilitas ekonomi global.
Secara teknikal, dinamika harga menegaskan arah turun dalam beberapa sesi terakhir. Para pelaku pasar memantau perkembangan lebih lanjut, termasuk dinamika imbal hasil dan isu-isu kebijakan moneter global, untuk melihat apakah tren penurunan bisa bertahan dalam jangka pendek.
Data resmi dari Office for National Statistics menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi Inggris flat pada Januari, meleset dari ekspektasi kenaikan 0,2 persen. Indikator ini menjadi berita berat bagi pound karena menambah tekanan pada prospek ekonomi Inggris. Sementara itu, produksi industri bulanan turun 0,2 persen, meski produksi manufaktur naik 0,1 persen dalam periode yang sama.
Rilis data tersebut membalikkan sebagian harapan terhadap perbaikan GBP, dan mendorong pasangan GBPUSD ke batas bawah kisaran mingguan. Kondisi ini memperkuat sentimen penjualan yang sempat tertahan sebelumnya, sembari dolar AS membalap lebih tinggi di pasar global.
Faktor-faktor ini beriringan dengan dinamika dolar yang masih kuat, lalu meningkatkan fokus pada rencana kebijakan Federal Reserve. Pelaku pasar menilai bahwa data UK yang lemah bisa memperlambat pergerakan pound, sementara faktor geopolitik menambah risiko bagi mata uang berisiko tersebut.
Investors menantikan perilisan indeks harga PCE Personal Consumption Expenditures, yang diprediksi memberikan petunjuk baru soal arah inflasi dan kebijakan suku bunga. Selain itu, kalender ekonomi AS menampilkan data Durable Goods Orders, JOLTS Job Openings, serta Preliminary Michigan Consumer Sentiment dan Inflation Index. Semua data ini diperkirakan akan memantapkan arah USD dalam beberapa sesi mendatang.
Di samping rilis data, dinamika geopolitik di Timur Tengah menambah status risk-on/risk-off pada pasar. Ketegangan yang meningkat mendukung daya tarik dolar sebagai aset safe-haven dan bisa memperpanjang tekanan pada pasangan GBPUSD. Pasar tetap menjaga fokus pada kabar-kabar politik global yang berpotensi memicu volatilitas lebih lanjut.
Dengan latar belakang data AS yang akan datang, prospek GBPUSD cenderung bergantung pada bagaimana dana risk appetite para pelaku pasar menyesuaikan dengan ekspektasi inflasi dan kebijakan moneter. Volatilitas bisa tetap tinggi dalam jangka pendek, meski arah umum tetap sensitif terhadap berita ekonomi utama dan pergerakan dolar dunia.