
Ketidakpastian politik Inggris meningkat setelah laporan pengunduran diri Perdana Menteri Starmer, menciptakan volatilitas pada GBP. Di saat bersamaan, sikap hawkish The Fed dan ekspektasi suku bunga global yang lebih tinggi memperkuat dolar AS sebagai aset safe haven. Kondisi ini menekan pound secara umum.
Faktor fundamental ini menambah tekanan pada GBP karena investor cenderung fokus pada potensi pelemahan jangka pendek. Pasar juga menilai risiko politik domestik sebagai penghalang pemulihan mata uang Inggris.
Secara teknis, area resistance sekitar 1.32324–1.32507 menjadi fokus utama. Ketika harga gagal menembus level tersebut, bias intraday cenderung bearish dan bisa melanjutkan penurunan menuju level support berikutnya.
Pada timeframe H1, pergerakan GBPUSD menunjukkan kegagalan menembus resistance yang sebelumnya berperan sebagai support. Ketika harga bertahan di bawah level ini, tekanan jual menjadi lebih kuat dan peluang turun lebih lanjut meningkat.
Level resistance berfungsi sebagai penghalang pergerakan harga, dan kestabilan di bawahnya menandakan bahwa pola turun berlanjut. Trader sering menunggu konfirmasi retest resistance sebelum menambah posisi jual.
Prediksi jangka pendek menunjukkan bias lemah untuk GBPUSD. Jika harga mampu retest dan turun lagi, target teknikal berikutnya menjadi fokus pelaku pasar.
Sinyal perdagangan yang diberikan dalam analisis adalah SELL. Sinyal ini mengarahkan trader untuk mempertimbangkan posisi jual di sekitar area 1.32507 dengan lokasi pembukaan menggunakan titik input sekitar 1.32507.
Target profit terdiri dari beberapa tingkat: TP1 di 1.32075, TP2 di 1.31849, dan TP3 di 1.31607. Dengan SL di 1.32709, risiko relatif terhadap potensi keuntungan memenuhi rasio minimal 1:1.5.
Manajemen risiko penting: gunakan ukuran posisi yang sesuai, pertimbangkan trailing stop saat harga bergerak mendekati TP, dan pantau rilis berita ekonomi yang bisa memicu volatilitas. Tetap patuhi rencana trading dan hindari overtrading.