Para analis Rabobank Molly Schwartz dan Christian Lawrence mencatat bahwa PDB Kanada turun 0,6 persen secara kuartalan pada kuartal keempat 2025, meski tetap tumbuh 0,7 persen secara tahunan. Penurunan ini didorong terutama oleh pelonggaran inventaris bisnis, khususnya di sektor manufaktur dan grosir, yang menandai penurunan inventori tahunan pertama sejak 2020. Meski ada kontraksi kuartal, faktor lain memulihkan aktivitas ekonomi secara terbatas.
Pembacaan ini menandai bahwa konsumsi rumah tangga dan ekspor telah membentuk bantalan bagi pertumbuhan meski inventori mengalami pelemahan. Perluasan output bisa terjadi jika permintaan domestik pulih lebih kuat, tetapi hambatan dari biaya input tetap ada. Para analis menyoroti bahwa kebijakan perdagangan masih menjadi variabel kunci bagi prospek Kanada.
Di luar hal itu, peningkatan harga energi terkait konflik Iran dapat mendukung nilai ekspor Kanada dalam jangka pendek. Namun dampak positif tersebut diperkirakan terbatas bagi ekonomi secara keseluruhan. Konsumen kemungkinan menghadapi tekanan biaya yang lebih tinggi sehingga pola belanja bisa beralih dari barang pilihan ke kebutuhan seperti bensin.
Biaya energi yang lebih tinggi berpotensi menekan kantong rumah tangga karena biaya bahan bakar dan energi lainnya mempengaruhi harga hampir semua barang dan jasa. Kanada sebagai eksportir energi membuat kenaikan harga energi menjadi faktor positif bagi ekspor dalam jangka pendek, tetapi efeknya terhadap permintaan domestik bisa melemahkan belanja rumah tangga. Dalam konteks ini rumah tangga cenderung memprioritaskan pengeluaran untuk kebutuhan pokok ketimbang barang mewah.
Kos energi juga mendorong inflasi dan menambah beban pada daya beli, sehingga belanja non-pokok bisa menurun. Dampak terhadap sektor ritel dan layanan bisa terlihat jika tekanan biaya energi berlanjut. Meski ekspor energi naik, belanja rumah tangga tetap menjadi kunci untuk kelanjutan pertumbuhan ekonomi Kanada.
Perubahan ini juga berarti kebijakan fiskal dan moneter perlu mengimbang, karena efek jamak terhadap permintaan global. Para pelaku pasar perlu memantau gejolak biaya energi dan kebijakan perdagangan ASMCA serta konflik regional untuk dampak jangka pendek maupun menengah. Secara umum, hasil gabungan menunjukkan bahwa dorongan dari sisi ekspor energi memberikan dukungan terbatas bagi sektor rumah tangga dan produksi.
Imbas utama dari dinamika tersebut adalah perlunya fokus pada efisiensi rantai pasokan dan manajemen inventaris agar pertumbuhan tidak terlalu tertekan. Data menunjukkan bahwa perlambatan inventori bisnis di sektor manufaktur dan grosir menjadi kontributor utama kontraksi. Di saat yang sama konsumsi dan ekspor menjadi penyangga yang penting bagi momentum ekonomi.
Analisis juga menyoroti bahwa risiko dari konflik energi dan harga energi tinggi bisa menahan pertumbuhan jangka menengah. Kanada sebagai net eksportir energi cenderung menikmati manfaat dari harga energi yang lebih tinggi untuk pendapatan ekspor, namun dampaknya terhadap permintaan domestik tetap menjadi kunci. Pembuat kebijakan perlu memperhatikan keseimbangan antara menjaga daya beli rumah tangga dan mendorong ekspor yang meningkatkan output.
Untuk investor dan pasar, gambaran ini berarti perhatian utama tetap pada sinyal harga energi, biaya input, dan pergeseran permintaan konsumen. Meski ada dukungan dari konsumsi dan ekspor, risiko terhadap belanja rumah tangga dapat mengurangi laju investasi. Dalam jangka menengah, outlook Kanada akan tergantung pada bagaimana otoritas kebijakan menstabilkan biaya energi sambil menjaga daya beli.