Wall Street dibuka melemah secara mengejutkan, menandai gelombang kekhawatiran global yang membara di tengah ketidakpastian geostrategis. Nasdaq berada di level 22.588, turun 0,2 persen, Dow Jones melemah 0,1 persen di 47.864, dan S&P 500 turun ke 6.775. Analisis dari Cetro Trading Insight menekankan bahwa dinamika geopolitik menjadi faktor penggerak utama pergerakan risk asset di awal sesi.
Ketegangan di Teluk Iran meningkat setelah Iran menghentikan sementara lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz dengan alasan serangan di Lebanon. Otoritas Iran menyikapi situasi ini sebagai sinyal untuk menekan respons internasional, sementara AS menegaskan kehadiran militer akan tetap di wilayah tersebut hingga tercapai kesepakatan yang lebih konkret. Pasar merespons dengan peningkatan risiko dan persepsi volatilitas yang lebih tinggi.
Di sisi lain, pasar juga menyerap data makro yang beragam. Inflasi inti PCE berada pada 3 persen YoY dan belanja konsumen naik 0,5 persen secara bulanan, sementara pembacaan final PDB kuartal IV-2025 menunjukkan pertumbuhan 0,5 persen. Futures Dow Jones, S&P 500, dan Nasdaq 100 bergerak melemah pra-pembukaan, menandai nada hati-hati menjelang perdagangan sesi penuh. Optimisme sempat membaik ketika ada harapan meredanya konflik, namun tekanan geopolitik kembali memudarkan sentimen. Minyak Brent menguat di atas USD97 per barel sejalan dengan kekhawatiran pasokan di Selat Hormuz.
Gambaran makroekonomi AS menampilkan kombinasi data yang tidak sepenuhnya selaras dengan ekspektasi investor. Inflasi inti PCE tetap di 3 persen YoY, sementara belanja rumah tangga tumbuh 0,5 persen bulanan, memberikan sinyal perlambatan yang tak konsisten dengan optimisme perbaikan daya beli. Kondisi ini menambah variabilitas pada penilaian jalur kebijakan moneter bank sentral.
Performa produk domestik bruto pada kuartal IV-2025 menunjukkan pertumbuhan 0,5 persen, lebih rendah dari perkiraan 0,7 persen. Angka ini memperkuat narasi bahwa momentum ekonomi belum sepenuhnya pulih meski tenaga kerja tetap solid dan konsumsi domestik berjalan. Pasar menunggu update lebih lanjut terkait suku bunga dan sinyal kebijakan lainnya dari otoritas moneter.
Seiring dengan data, kontrak berjangka indeks saham AS memperlihatkan koreksi menuju pembukaan, dengan tekanan pada Dow Jones, S&P 500, dan Nasdaq 100 sekitar 0,3–0,4 persen. Optimisme pasar menghadapi risiko geopolitik yang berlanjut dan ketidakpastian global yang tetap membebani, meski beberapa fundamental tetap mendukung perbaikan jangka menengah. Analisis dari Cetro Trading Insight menekankan bahwa sentiment menengah tetap bergantung evolusi konflik Timur Tengah dan respons kebijakan fiskal serta perdagangan internasional.
Ketidakpastian pasokan minyak menjadi salah satu penentu utama mood pasar. Brent crude diperdagangkan di atas USD 97 per barel, didorong oleh kekhawatiran atas pasokan di Selat Hormuz serta potensi gangguan operasional akibat ketegangan regional. Konteks ini menambah tekanan pada investor yang juga menilai ekspektasi pertumbuhan global.
Data menunjukkan hanya tiga kapal yang melintas di Selat Hormuz pada Rabu, sementara sekitar 800 tanker masih berada dalam antrean menuju rute utama. Kondisi ini memperpanjang perdebatan mengenai kemampuan aliran minyak mentah dunia untuk menjaga kestabilan harga di tengah ketidakpastian geopolitik. Pasar komoditas dan saham berpotensi terlihat volatil jika ketegangan meningkat.
Secara keseluruhan, dinamika minyak dan konflik regional memegang kendali lebih kuat terhadap risiko pasar. Pergerakan harga minyak yang lebih tinggi cenderung menekan likuiditas aset berisiko, meskipun dukungan dari data fundamental domestik dan potensi kebijakan moneternya dapat membantu menahan penurunan tajam. Analis menekankan bahwa risiko reward terhadap posisi risiko tetap perlu dikaji dengan cermat di sini.