
GoTo Gojek Tokopedia Tbk melaporkan laba bersih sebesar Rp607,5 miliar untuk semester I 2026, menandai dua kuartal berturut turut dengan laba positif. Angka ini menunjukkan ekosistem yang luas mampu mengubah pertumbuhan pengguna serta volume transaksi menjadi keuntungan nyata. Di sisi operasional, Gross Transaction Value GTV inti naik signifikan 75 persen secara tahunan menjadi Rp302,02 triliun, mendongkrak pendapatan bersih grup sebesar 28 persen menjadi Rp10,99 triliun.
EBITDA yang telah disesuaikan untuk grup juga menunjukkan tren positif, melampaui Rp1 triliun untuk pertama kalinya dan menandakan keberlanjutan profitabilitas di tengah dinamika bisnis. Pihak manajemen menegaskan bahwa performa ini bukan sekadar lonjakan sementara, melainkan cerminan keseimbangan antara berbagai lini usaha dalam ekosistem GoTo.
Menurut analis internal Cetro Trading Insight yang secara rutin mengkaji laporan keuangan perusahaan teknologi finansial besar, kinerja fintech mulai menyeimbangkan beban perseroan hingga akhirnya menggeser dominasi segment On Demand Services. Direktur utama Hans Patuwo menekankan bahwa kemajuan fintech memberi kontribusi penting terhadap profitabilitas grup secara keseluruhan.
Sejak 1 Juli 2026 GoTo menyesuaikan struktur komisi untuk layanan transportasi roda dua Gojek sebagai bagian dari respons terhadap kebijakan regulator. Penyesuaian ini diresmikan melalui Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 532 Tahun 2026 dan akan mulai berpengaruh secara keseluruhan pada laporan keuangan kuartal ketiga 2026. Walau dampaknya belum terasa secara penuh, manajemen memperkirakan perubahan ini akan mengatur arus pendapatan dari segmen On Demand.
Hans Patuwo menyatakan perubahan komisi memang menantang, namun pedoman EBITDA disesuaikan tetap berada pada kisaran target Rp3,2 triliun hingga Rp3,4 triliun untuk setahun penuh. Dalam konteks pergeseran fokus, struktur komisi baru diperkirakan membuat kontribusi bisnis Fintech meningkat sementara segmen On-Demand menghadapi tekanan.
Di sisi operasional segmen On-Demand Services melalui Gojek mencetak EBITDA disesuaikan sebesar Rp903 miliar pada Juni 2026, tumbuh 41 persen. GTV inti segmen Delivery menyentuh Rp33 triliun dengan margin naik dari 1,8 persen menjadi 2,1 persen, didorong peningkatan pelanggan affluent.
GoTo berupaya memperkuat struktur modal dengan rencana pembatalan lebih dari 32 miliar saham treasuri, setara sekitar 2,7 persen dari total saham beredar. Rencana tersebut diajukan untuk mendapat persetujuan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa RUPSLB setelah semua persiapan selesai. Langkah ini diharapkan meningkatkan efisiensi kepemilikan saham dan fleksibilitas mekanisme modal perusahaan.
Per 2026 perseroan mempertahankan pedoman EBITDA disesuaikan pada kisaran Rp3,2 triliun hingga Rp3,4 triliun. Secara terperinci, target kinerja Fintech ditetapkan antara Rp1,7 triliun hingga Rp1,8 triliun, sedangkan segmen On Demand diarahkan antara Rp1,4 triliun hingga Rp1,5 triliun dengan asumsi penerapan komisi sebesar 8 persen pada aplikasi.
Perusahaan menegaskan pedoman tersebut bisa berubah sesuai dinamika persaingan industri, inflasi biaya, serta kondisi ekonomi makro. Analisis Cetro Trading Insight menilai bahwa kombinasi inovasi produk dan ekspansi layanan akan menentukan arah laba, sementara kebijakan pasar memastikan ekosistem GoTo tetap kompetitif dan berkelanjutan untuk investor. Dari sudut pandang pemegang saham, ekosistem yang luas menambah nilai jangka panjang meski volatilitas pasar tetap ada.