
Pasar modal Indonesia menghadapi tekanan cukup berat sejak awal 2026 akibat aksi jual investor asing, yang menimbulkan kekhawatiran terkait likuiditas dan volatilitas harga. Kondisi ini memicu aliran keluar modal yang besar dan menekan kinerja banyak saham berkapitalisasi besar. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat total arus keluar mencapai sekitar Rp74 triliun hingga 2 Juli 2026.
Namun, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, menyatakan tekanan tersebut mulai mereda. Data menunjukkan pembalikan arah pada beberapa hari terakhir. Menurutnya, hal ini menjadi indikator bahwa sentimen di pasar mulai membaik secara bertahap.
Hingga pertengahan Juli 2026, investor asing mencatat net buy secara agregat, menandakan perubahan dinamika. Untuk periode 13–17 Juli 2026, net buy asing mencapai sekitar Rp0,441 triliun menurut data BEI. Kendati akumulatif net sell masih terlihat secara tahunan, momentum positif di paruh kedua memberi harapan bahwa likuiditas bisa pulih dan pasar stabil.
OJK bersama Self-Regulatory Organizations (SRO) berkomitmen memperkuat daya saing pasar modal melalui reformasi berkelanjutan. Fokusnya adalah meningkatkan transparansi, kualitas disclosure, dan tata kelola yang lebih kuat sehingga kepercayaan investor meningkat. Dalam konteks ini, OJK menegaskan bahwa peran investor domestik tetap krusial dalam menjaga likuiditas dan stabilitas pasar.
Langkah reformasi mencakup penguatan transparansi kepemilikan saham dan peningkatan kualitas data untuk mendukung penentuan free float serta kelayakan investability pasar. Metodologi High Shareholding Concentration (HSC) akan disempurnakan untuk lebih akurat menggambarkan konsentrasi kepemilikan. Pengawasan terhadap aktivitas perdagangan dan risiko konsentrasi kepemilikan akan diperkuat melalui analisis data yang lebih mendalam.
Selain memperkuat tata kelola, OJK juga mengejar peningkatan komunikasi dengan investor institusi global serta penyedia indeks internasional seperti MSCI agar reformasi dapat tersampaikan secara tepat waktu dan transparan. Dalam konteks ini, analisis dari Cetro Trading Insight menyoroti potensi peningkatan daya tarik pasar modal Indonesia jika praktik tata kelola dan keterbukaan informasi terus ditingkatkan. Hasan menegaskan fokus pada pasar yang transparan, berintegritas, dan berdaya saing untuk meningkatkan kepercayaan investor.