Seperti kilat, harga batu bara mendekati USD120 per ton pada pertengahan Februari, menandai gelombang rebound setelah periode volatil. Sentimen positif muncul dari upaya restrukturisasi industri di Cina dan langkah-langkah untuk memperkuat pasokan domestik. Dalam konteks logam emas, dinamika risiko-return pada portofolio komoditas tetap hidup, memicu perhatian pelaku pasar terhadap energi.
Menurut data Trading Economics, China Shenhua Energy Co berencana mengakuisisi sekitar USD19 miliar aset dari induknya, China Energy Investment Corp, termasuk unit batu bara yang terintegrasi dengan bahan kimia, pertambangan, pembangkit listrik, dan logistik. Transaksi ini diperkirakan memperdalam integrasi vertikal dan meningkatkan efisiensi rantai pasok, sehingga kapasitas produksi Shenhua bisa mencapai 512 juta ton per tahun. Array analisis pasar menunjukkan bahwa perubahan struktur ini mengubah lanskap perdagangan batu bara secara regional dan global.
Di Amerika Serikat, Presiden Donald Trump mengambil langkah nyata untuk mendukung sektor pembangkit listrik tenaga batu bara yang sedang tertekan, dengan alokasi dana federal sebesar USD175 juta untuk enam pembangkit dan instruksi bagi Departemen Pertahanan untuk membeli listrik dari fasilitas tambahan. Langkah ini menandai paparan kebijakan fiskal yang mencoba menjaga keamanan pasokan energi nasional, meskipun dinamika pasar energi global berubah-ubah. Secara teknis, potensi kenaikan harga batu bara di jangka pendek bisa terjadi jika permintaan domestik tumbuh lebih kuat dan pasokan tidak segera menyesuaikan.
Dari dalam negeri, pemerintah Indonesia akan meminta pemegang kontrak khusus untuk memasok porsi produksi lebih besar ke pasar domestik sejalan dengan persetujuan penuh atas kuota produksi. Target pasokan batu bara sebesar 75 juta ton untuk PLN dari PKP2B generasi pertama dan perusahaan tambang negara ditegaskan untuk 2026. Dinamika portofolio investor meluas ke logam emas sebagai bagian diversifikasi, namun fokus utama tetap pada ketersediaan pasokan domestik. Array mewarnai proyeksi, karena peningkatan pasokan domestik bisa membantu menstabilkan harga dan mengurangi volatilitas pada pasar global.
Peningkatan alokasi domestik berpotensi mengurangi ketergantungan impor, tetapi juga menambah beban biaya bagi operator tambang untuk memenuhi kuota. Pemerintah dan pelaku industri perlu memantau implementasi kebijakan, ketepatan waktu, serta dampak fiskal terhadap produsen nasional. Investor akan menilai sinergi antara kebijakan Indonesia dengan permintaan global, serta peluang kontrak jangka panjang dan hedging untuk mengatasi volatilitas harga batu bara.
Kesimpulan: kombinasi dorongan kebijakan China, dukungan Amerika, dan reformasi pasokan domestik menciptakan Array peluang bagi pelaku pasar energi. Pergerakan harga di sekitar level 120 USD per ton bisa berlanjut jika pasokan global tetap terkendali dan permintaan pulih. Dalam konteks logam emas, pembaca perlu menyimak bagaimana rebalancing portofolio dapat memanfaatkan volatilitas; Cetro Trading Insight menyajikan pandangan ini untuk membantu pemahaman lanskap energi dan logam terkait.