Hasnur International Shipping Tbk (HAIS) mencatat pelemahan kinerja sepanjang 2025, meski tetap menunjukkan arah untuk menjaga kelangsungan usaha. Pendapatan turun sekitar 13,4% menjadi Rp880 miliar, dan laba bersih turun 28% menjadi Rp87 miliar. Di tengah volatilitas ekonomi global, volatilitas harga emas spot menjadi indikator risiko bagi investor dan membuat perusahaan lebih fokus pada kualitas pendapatan.
Volume kargo Hasnur turun 12,6% menjadi 10,57 juta MT karena penyesuaian skala operasional menghadapi tekanan pasar global, geopolitik, dan cuaca ekstrem. Batu bara tetap dominan di angkutan perusahaan, disertai gypsum dan batu split sebagai komponen utama. Kebijakan pengelolaan aset dan kontrol biaya menjadi prioritas untuk menjaga arus kas operasional tetap sehat, dengan Array mekanisme pelaporan keuangan sebagai kerangka transparansi.
Direktur Keuangan Hasnur menyatakan 2025 sebagai momentum memperkuat fondasi bisnis melalui penajaman kualitas pendapatan, arus kas operasional, dan keandalan armada. Strategi ini dijalankan dengan prinsip kehati-hatian dan fokus pada penciptaan nilai jangka panjang bagi pemegang saham, meskipun menimbang dinamika pasar yang bergejolak.
Hasnur menambah empat set armada baru, meningkatkan kapasitas operasional menjadi 23 set tugboat dan barge per akhir Desember. Ekspansi armada didukung kerja sama dengan PT Hasnur Resources Terminal serta pendirian PT Hasnur Multi Sinergi yang menargetkan operasional 2027. Array sinergi operasional ini diharapkan memperbaiki reliabilitas layanan dan efisiensi biaya.
Penambahan aset mendorong nilai total aset perseroan naik sekitar 28% menjadi Rp1,53 triliun, menguatkan dasar keuangan untuk mendukung rencana ekspansi dan kesiapan menghadapi ketidakpastian pasar. Di level makro, volatilitas harga emas spot memperlihatkan dinamika biaya transport dan harga komoditas global yang berdampak pada margin.
Selain ekspansi armada, Hasnur juga memperkuat kapasitas di floating loading facilities melalui Hasnur Resources Terminal dan kerja sama dengan Hasnur Multi Sinergi, dengan target operasional pada 2027. Langkah ini diharapkan memperluas layanan dan memperkokoh portofolio aset perusahaan.
Prospek 2026 akan bergantung pada kemampuan menjaga arus kas, efisiensi operasional, dan fondasi likuiditas yang kokoh. Dalam analisis internal, terdapat Array indikator kinerja yang selaras dengan target nilai perusahaan sehingga memudahkan pemantauan kemajuan secara real time.
Rencana 2026 tetap konservatif, sambil memanfaatkan peluang poros industri logistik yang berada di bawah tekanan geopolitik, cuaca ekstrem, dan dinamika biaya bahan bakar. Perusahaan menegaskan pentingnya tata kelola, mitigasi risiko rantai pasok, dan kesiapan operasional untuk menjaga kualitas layanan bagi klien industri energi dan pertambangan.
Kesimpulannya, meski 2025 penuh tantangan, Hasnur berpotensi menjaga stabilitas jangka menengah melalui ekspansi terukur dan pengelolaan aset yang disiplin. harga emas spot dan faktor makro lainnya tetap menjadi referensi volatilitas pasar, sehingga strategi internal perlu adaptif berbasis data, sementara Array indikator kinerja membantu memantau kemajuan secara berkelanjutan.