Emas Antam mencatat kenaikan sebesar Rp30.000 per gram, membawa level harga ke Rp2.917.000. Pergerakan ini sejalan dengan penguatan emas global yang masih bertahan di level tinggi. Kondisi ini mencerminkan respons investor terhadap risiko geopolitik dan upaya perlindungan nilai di tengah dinamika pasar yang berubah.
Emas dunia tetap berada di atas US$5.000 per ons, menempatkan logam mulia sebagai bagian penting dari portofolio berisiko. Analis melihat pergeseran minat menuju aset material seiring narasi jual Amerika dan upaya de-dollarisasi yang berkembang. Sinyal pasar juga menyoroti bahwa permintaan terhadap aset lindung nilai belum pudar sepenuhnya meski ada ketahanan imbal hasil obligasi AS.
Riset Rabobank menegaskan adanya pergeseran preferensi investor dari aset keuangan ke aset material di tengah dinamika global. Namun, permintaan terhadap obligasi pemerintah AS tetap kuat, menandakan penggunaan dolar AS dalam pembayaran internasional masih meningkat. Kondisi ini menjelaskan mengapa emas mampu menjaga momentum tanpa kehilangan daya tarik dalam beberapa bulan terakhir.
Secara teknis, tren emas global pada kerangka harian menggambarkan pergerakan naik yang sangat kuat. Harga terakhir berada di sekitar US$5.083 per ons dan membentuk higher high berkelanjutan. Grafik juga menunjukkan harga berada jauh di atas SMA utama di US$4.371, menjadikan area itu menjadi zona penyangga dan indikator bias kenaikan jangka menengah-panjang.
Momentum terlihat kuat namun RSI berada di level tinggi sekitar 84, menandakan kondisi jenuh beli secara teknis. Meski demikian, kondisi jenuh beli tidak selalu memicu pembalikan tren, melainkan sering mengisyaratkan koreksi terbatas atau periode konsolidasi sebelum rally berikutnya. Pelaku pasar perlu mengamati dinamika momentum untuk memutuskan kelanjutan posisi.
Selama harga bertahan di atas support bertahap di US$4.989-4.753, bias naik tetap dominan. Jika minat beli kembali menguat, potensi pengujian resistance lanjutan di sekitar US$5.671 tetap terbuka. Skema risiko-keuntungan mengarah pada peluang buy dengan target sekitar US$5.671 dan stop di US$4.695 untuk menjaga rencana trading dengan rasio minimal 1:1,5.
Di tingkat makro, narasi de-dollarization tidak sepenuhnya mengurangi daya tarik logam mulia sebagai pelindung nilai. Analisis Rabobank menunjukkan permintaan terhadap obligasi AS tetap kuat ketika tetap munculnya likuiditas global. Dalam konteks ini, pergerakan emas tetap relevan sebagai bagian dari strategi perlindungan risiko dalam portofolio yang beragam.
Di pasar lokal, harga emas Antam mengikuti tren global dengan kisaran yang membuat investor domestik lebih memilih logam putih ini sebagai aset lindung nilai. Kenaikan harga juga berpotensi menarik minat ritel untuk melakukan diversifikasi portofolio. Meski begitu, volatilitas dekat level tinggi dan perubahan yield global tetap menjadi faktor yang perlu diawasi.
Outlook teknis menyiratkan tren bullish tetap berlanjut selama level support terjaga. Pelaku pasar sebaiknya memantau level sekitar US$5.671 sebagai target jangka menengah dan menjaga stop di sekitar US$4.695 untuk memenuhi rasio risiko-keuntungan minimal. Pergerakan dolar AS dan dinamika permintaan internasional akan sangat menentukan arah berikutnya.