
Menurut laporan dari Cetro Trading Insight, harga emas berada di wilayah positif sekitar $4.700 pada sesi Asia awal, mencerminkan nada kehati-hatian di pasar. Pelaku pasar menimbang tanda-tanda peluang kerjasama antara dua ekonomi terbesar dunia jelang pertemuan penting tersebut.
Pergerakan ini juga dipicu oleh harapan terkait peluang adanya relaksasi tarif yang disepakati antara AS dan Tiongkok, meskipun ancaman geopolitik tetap menjadi faktor pendukung bagi permintaan aset safe haven. Investor mencoba menakar keseimbangan antara sentimen risiko dan ekspektasi kebijakan moneter yang lebih tegas.
Selain itu, pasar menyorot data ritel AS yang akan dirilis hari itu, karena hasilnya bisa mempengaruhi jalur kebijakan Federal Reserve. Katalis ini membuat gerak harga bullion cenderung berhati-hati dengan potensi perubahan arah yang signifikan tergantung data ekonomi selanjutnya.
Data yang dirilis oleh Biro Statistik Tenaga Kerja AS menunjukkan Producer Price Index (PPI) meningkat 6,0% secara tahunan pada April, setelah 4,3% pada bulan Maret. Angka ini melampaui ekspektasi sekitar 4,9% dan menandai laju inflasi grosir tertinggi dalam lebih dari empat tahun.
Secara bulanan, inflasi PPI naik 1,4% di April dibandingkan 0,7% di Maret, jauh melampaui proyeksi 0,5%. Data tersebut memperkuat narasi bahwa bank sentral kemungkinan mempertahankan suku bunga pada level tinggi untuk menghadapi tekanan inflasi yang masih kuat.
Kondisi seperti ini sering menguji daya tarik emas sebagai lindung nilai karena logam mulia tidak memberikan hasil bunga. Nilai imbal hasil yang lebih tinggi membuat opsi yang berlanjut pada biaya kepemilikan logam mulia menjadi kurang menarik bagi sebagian investor.
Media melaporkan adanya pembahasan kerangka kerja antara AS dan China yang berpotensi mengurangi tarif pada beberapa kategori barang yang tidak membahayakan keamanan nasional. Meski demikian, ketegangan geopolitik di wilayah lain juga tetap menjadi pendorong permintaan aset berisiko rendah seperti logam mulia ketika ketidakpastian meningkat.
Ketika fokus beralih ke hubungan perdagangan utama, dinamika antara AS dan China dan potensi relaksasi perdagangan bisa menopang permintaan pasar, tetapi efeknya bisa tertahan jika bank sentral menjaga kebijakan suku bunga tetap tinggi. Dalam konteks ini, emas bisa tetap diperdagangkan dengan volatilitas yang lebih rendah dibandingkan aset berisiko.
Secara teknis, para analis menilai bahwa arah jangka pendek emas sangat dipengaruhi oleh pertemuan pejabat tingkat tinggi dan keluarnya data inflasi berikutnya. Sinyal jangka panjang tetap bergantung pada arah kebijakan moneter global dan perkembangan konflik geopolitik yang dapat memicu permintaan perlindungan nilai.