Harga Emas Menguat Tipis di Sesi Asia Menjelang CPI AS dan Data NFP

Harga Emas Menguat Tipis di Sesi Asia Menjelang CPI AS dan Data NFP

trading sekarang

Harga emas melejit tipis di sesi Asia awal, mendekati level 5.060 dolar per ons. Arah harga didorong oleh permintaan aset aman karena ketidakpastian global dan ketegangan antara Amerika Serikat dengan Iran. Pelaku pasar juga menyimak pergerakan pasar karena faktor teknikal bisa membentuk arah jangka pendek.

Rilis data ekonomi utama nanti diperkirakan bisa mengubah ekspektasi investor terhadap kebijakan moneter. Energi risiko meningkat ketika pasar menimbang kemungkinan perubahan imbal hasil dan langkah bank sentral. Secara umum, emas mendapat dukungan dari situasi yang tidak menentu meski data pekerjaan AS lebih baik dari perkiraan.

Di sisi teknikal, level support dan resistance sekitar 5.000 dan 5.100 dolar tetap menjadi fokus pengamatan para trader. Medan inflasi yang bakal naik atau melambat akan menentukan arah dalam beberapa hari ke depan. Investor juga menilai bagaimana ekspektasi suku bunga memengaruhi daya tarik logam mulia ini.

NFP Januari menunjukkan penambahan 130.000 pekerjaan, lebih tinggi dari ekspektasi sekitar 70.000. Laju pengangguran turun menjadi 4,3 persen, lebih rendah dari bulan sebelumnya. Angka ini menambah optimisme terhadap pasar tenaga kerja meski dinamika inflasi masih menjadi pembatas bagi estimasi kebijakan.

Rilis ini berpotensi mempengaruhi pergerakan dolar dan harga komoditas dalam beberapa sesi berikutnya. Pasar menilai apakah The Fed perlu mempertahankan sikap kebijakan yang moderat atau lebih restriktif jika inflasi tetap tinggi. Meski data positif, volatilitas bisa meningkat karena investor menanti rilis CPI akhir pekan.

Di tengah konteks tersebut, emas cenderung bertahan sebagai pelindung nilai meski imbal hasil riil bisa berkurang jika inflasi turun. Para analis mencatat bahwa jika CPI menunjukkan kenaikan 2,5% YoY, emas tetap menarik bagi para pemegang aset berisiko.

Dampak CPI dan Sinyal Kebijakan Moneter

Para pedagang menantikan laporan CPI AS yang menjadi penentu arah kebijakan Fed. Angka inti dan headline CPI diperkirakan meningkat sekitar 2,5% YoY, memberikan petunjuk terhadap tenaga inflasi. Data tersebut akan membentuk ekspektasi suku bunga dan arah dolar dalam beberapa bulan ke depan.

Jika inflasi tetap terangkat, kemungkinan suku bunga berada pada jalur yang lebih tinggi atau lebih lama, yang cenderung menguatkan USD dan menekan logam mulia. Sinyal kebijakan yang lebih hawkish juga bisa menahan rally emas dalam jangka pendek.

Sebaliknya, jika CPI menunjukkan pelemahan inflasi, pasar bisa menilai perlunya jeda kenaikan suku bunga, sehingga emas bisa mendapat dukungan. Investor akan menilai bagaimana dinamika harga energi dan layanan berperan dalam perubahan angka inflasi.

broker terbaik indonesia