
Harga emas turun pada sesi Asia awal, mencapai sekitar 4.280 dolar AS per ounce. Pasar merespons keputusan Federal Reserve untuk menahan suku bunga pada kisaran 3,50%–3,75%. Langkah ini membangun ekspektasi di pasar bahwa kenaikan biaya pinjaman bisa terjadi di kemudian hari, sehingga mempengaruhi minat investor terhadap logam mulia yang tidak menghasilkan bunga.
FOMC pada pertemuan tersebut memilih membawa kebijakan moneter stabil sambil menegaskan kemungkinan perubahan kebijakan pada rapat-rapat berikutnya. Ketua Fed, Kevin Warsh, menegaskan komitmen untuk memulihkan stabilitas harga meskipun sinyal hawkish mulai terlihat. Para analis menilai bahwa komentar tersebut meningkatkan peluang peningkatan suku bunga di sisa tahun ini.
Emas diyakini sebagai pelindung terhadap inflasi, namun kelebihannya sebagai aset tanpa imbal hasil membuatnya kurang atraktif ketika biaya pinjaman meningkat. Pasar juga mencermati perubahan imbal hasil obligasi dan pergerakan dolar AS, yang cenderung menekan harga logam mulia. Secara umum, pergerakan kurs mempengaruhi daya tarik emas sebagai lindung nilai.
Dalam rantai berita geopolitik, Iran dan Amerika Serikat dikabarkan akan menandatangani memorandum untuk meredakan konflik di wilayah Teluk dan membicarakan masa depan administrasi Hormuz. Perkembangan tersebut muncul di tengah negosiasi yang berlangsung di Jenewa dan dinilai dapat mengurangi ketidakpastian pasokan energi. Sentimen risk-off di pasar sering meningkat ketika ketegangan geopolitik meningkat.
Menurut pernyataan dalam rencana MoU, kapal komersial akan diizinkan lewat Hormuz tanpa pembayaran tol selama 60 hari. Kesepakatan ini dipandang dapat menurunkan risiko gangguan pasokan di jalur vital tersebut. Efek domino-nya bisa menenangkan pasar minyak dan, secara tidak langsung, menekan volatilitas di pasar emas.
Iran juga berencana mengadakan dialog dengan Oman untuk merinci masa depan layanan maritim Hormuz bersama negara Teluk lainnya. Langkah ini mencerminkan upaya regional untuk mengurangi gesekan yang dapat memicu fluktuasi pasar energi. Meski demikian, para pelaku pasar tetap waspada terhadap dinamika kebijakan di masa mendatang.
Dari sisi perdagangan, pergerakan harga emas dipengaruhi oleh kebijakan moneter AS dan risiko geopolitik yang sedang berkembang. Banyak analis menilai bahwa sinyal hawkish Fed bisa memberikan tekanan berkelanjutan pada logam kuning. Hal tersebut menempatkan harga emas pada jalur volatil yang perlu diwaspadai investor.
Bagi trader jangka pendek, volatilitas menjelang rapat kebijakan berikutnya menuntut manajemen risiko yang ketat. Strategi masuk bisa menimbang level support di sekitar 4.200 dolar dan resistance di sekitar 4.350 dolar, sambil menyesuaikan stop loss agar risiko tetap terkontrol. Selain itu, investor disarankan menggunakan ukuran posisi yang proporsional dengan profil risiko mereka.
Saran dari Cetro Trading Insight adalah menjaga ekspektasi realistis terhadap pergerakan harga, mengutamakan analisis fundamental yang menguatkan narasi pasar. Fokus pada sinyal yang jelas antara kebijakan Fed dan dinamika Hormuz, sambil memantau indikator teknikal pendukung. Dengan arah pasar saat ini, skenario jual tetap relevan jika harga menembus level kunci secara konsisten.