Minyak sawit mentah memperlihatkan pelemahan berkelanjutan yang menambah gelombang tekanan pada para pengekspor. Pergerak ini bukan sekadar angka; ia berdampak langsung pada arus kas dan keputusan bisnis di pasar komoditas nabati. Sinyal dari pasar menunjukkan bahwa sentimen investor sedang mencari arah baru setelah beberapa minggu volatilitas.
Kontrak acuan April di Bursa Malaysia Derivatives turun 0,64% menjadi 4.034 ringgit per ton pada pukul 14.30 WIB, menandai kelanjutan tren penurunan. Analis StoneX berbasis di Singapura, Kang Wei Cheang, menyatakan bahwa penguatan ringgit membebani daya saing ekspor dan meredam minat beli. Ia menambahkan bahwa belum ada katalis bullish yang muncul dari Price Outlook Conference di Kuala Lumpur, sehingga sentimen pasar tetap netral.
Ringgit Malaysia menguat 0,13% terhadap dolar AS, menjadikan minyak sawit lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang asing. Sementara itu, kontrak minyak kedelai di Dalian naik 0,15% dan minyak sawitnya turun 0,9%, menunjukkan dinamika harga minyak nabati yang saling terkait. Di Chicago Board of Trade, minyak kedelai menguat 0,42% meski sentimen utama pasar minyak nabati tetap bergantung pada permintaan global.
Langkah kebijakan domestik menjadi pusat perhatian pasar. Pemerintah Malaysia menaikkan harga referensi minyak sawit mentah untuk Maret dan mempertahankan bea ekspor sebesar 9%, sebuah langkah yang dirancang menstabilkan harga domestik sambil menjaga arus ekspor tetap kompetitif. Para analis melihat langkah ini sebagai respons terhadap volatilitas harga global tanpa menimbulkan dorongan bullish jangka pendek. Cetro Trading Insight menilai bahwa kebijakan tersebut menambah alat stabilisasi, meski dampaknya bergantung pada faktor permintaan global.
Secara teknis, dinamika pasar minyak nabati terus beriringan. Palm olein di Dalian melemah sementara harga minyak kedelai di Chicago meningkat, memperkaya potret persaingan antar minyak nabati. Data MPOB juga menunjukkan penyesuaian harga untuk Maret, sementara tantangan dari penurunan ekspansi biodiesel di Indonesia menambah tekanan harga secara global.
Permintaan global tetap menjadi penentu utama arah harga meski faktor supply menghadapi dinamika kebijakan. Analis menilai bahwa lonjakan harga bisa terhalang oleh faktor permintaan dan produksi yang tetap dekat dengan titik keseimbangan. Dalam konteks ini, para pelaku pasar disarankan memantau update kebijakan dan laporan produksi secara berkala untuk mengidentifikasi peluang atau risiko yang muncul.
Meskipun tren pelemahan harga berlanjut, prospek jangka menengah menunjukkan bahwa permintaan tetap kuat dan perlambatan produksi dapat membatasi penurunan lebih lanjut. Menurut Julian McGill, Managing Director sekaligus pendiri Glenauk Economics, penjualan benih sawit Indonesia pada 2025 tetap signifikan meski ada gangguan terkait penyitaan lahan, sehingga pasokan tidak sepenuhnya berkurang.
Analisis ini menekankan bahwa dinamika kebijakan produsen utama, pergerakan kurs, dan harga minyak nabati lain akan terus membentuk arah pasar. Tanpa adanya katalis baru, pergeseran sentimen dapat berlangsung cepat, membuat pelaku pasar perlu waspada terhadap potensi volatilitas jangka pendek. Cetro Trading Insight akan terus memantau perkembangan pasar CPO dan menyajikan pembaruan analisis secara berkala.
Rekomendasi bagi pelaku pasar adalah menjaga manajemen risiko melalui penempatan stop loss yang tepat, memantau perubahan kebijakan dan produksi, serta memanfaatkan peluang saat indikator permintaan mendukungnya. Dengan mengawasi perkembangan MPOB, kebijakan biodiesel Indonesia, serta pergerakan ringgit, investor dapat mengambil posisi sesuai risiko. Cetro Trading Insight berkomitmen menyediakan update sinyal dan insight terkini saat pasar berubah arah.