Harga minyak WTI bergerak rebound dan mendekati level USD 56,30 pada sesi Asia hari ini. Pergerakan ini dipicu oleh data persediaan minyak mentah AS yang menunjukkan penurunan lebih tajam dari perkiraan. Investor menyerap sinyal bahwa permintaan dapat lebih kuat meskipun ketidakpastian global tetap ada. Kenaikan harga juga dibatasi oleh faktor kebijakan dan geopolitik yang berpotensi mempengaruhi pasokan.
Laporan EIA untuk minggu yang berakhir 2 Januari menunjukkan penurunan 3,831 juta barel. Penurunan ini lebih besar daripada penurunan 1,934 juta barel pada minggu sebelumnya, dan jauh melampaui konsensus pasar yang memperkirakan kenaikan 1,1 juta barel. Penyempitan stok menandakan permintaan yang lebih kuat dalam jangka pendek dan berpotensi mendorong harga lebih tinggi.
Meski demikian, peluang kenaikan harga tampak terbatas karena adanya isu kebijakan impor minyak Venezuela senilai hingga USD 2 miliar. Banyak analis menilai bahwa volume ekspor dari Venezuela dapat menahan laju kenaikan harga minyak. Di sisi lain, pernyataan pejabat energi AS menyoroti upaya untuk menyeimbangkan pendapatan minyak Venezuela dan stabilisasi sektor industri.
Rilis mingguan EIA menunjukkan stok minyak mentah AS turun lebih dari perkiraan, memperkuat pandangan bahwa permintaan bisa lebih kuat daripada yang diproyeksikan. Laju penurunan ini mendorong minat beli saat para trader menilai sisi penawaran secara lebih ketat. Namun, volatilitas tetap tinggi karena faktor eksternal yang dapat membatasi pergerakan harga jangka pendek.
Konsensus pasar sebelum rilis memprediksi stok naik sebesar 1,1 juta barel, sehingga realisasi penurunan menjadi kejutan yang signifikan. Faktor ini sering memicu revisi ekspektasi terhadap laju impor dan produksi. Efeknya terhadap likuiditas pasar lebih terasa pada sektor energi dan mata uang terkait yang sensitif terhadap risiko ekonomi global.
Perbedaan antara realisasi dan ekspektasi meningkatkan dinamika volatilitas serta membentuk dasar bagi momentum harga. Para pelaku pasar cenderung menilai longer-term supply-demand balance dengan lebih hati-hati. Akibatnya, pergerakan jangka pendek cenderung responsif terhadap laporan lanjutan dan komentar kebijakan.
Kebijakan AS terkait Venezuela menambah unsur ketidakpastian bagi pasar minyak. Keputusan pemerintah mengenai bagaimana mengelola penjualan dan pendapatan minyak Venezuela dapat mempengaruhi aliran pasokan global. Investor perlu menimbang potensi perubahan kebijakan yang bisa meredam atau mempercepat koreksi harga.
Data tenaga kerja AS yang akan dirilis pada bulan Desember menjadi fokus utama karena bisa menunjukkan kekuatan ekonomi. Prospek pekerjaan yang lebih baik biasanya mendukung dolar, namun tanda-tanda pelemahan bisa menyokong komoditas berdenominasi dolar. Kondisi itu berimplikasi langsung pada volatilitas harga minyak dan ekspektasi arus modal ke aset berisiko.
Jika data tenaga kerja menunjukkan kelemahan, dolar bisa tertekan dan hal tersebut berpotensi mendukung harga minyak berbasis dolar. Namun terdapat juga faktor eksternal seperti kebijakan global dan volatilitas geopolitik yang bisa membentuk arah kebijakan OPEC+ serta alokasi investasi di sektor energi. Secara keseluruhan, pasar menilai peluang relatif untuk trading jangka pendek sambil tetap memperhatikan risiko jangka menengah.