WTI Tertekan oleh Ancaman Oversupply Venezuela dan USD Menguat, Pasar Menanti NFP

WTI Tertekan oleh Ancaman Oversupply Venezuela dan USD Menguat, Pasar Menanti NFP

Harga Minyak Mentah West Texas Intermediate berada di sekitar level 58 per barel pada sesi Asia, melemah lebih dari 0,8% hari itu. Pergerakan tersebut membatasi kenaikan setelah rally sebelumnya yang mendekati level terendah sejak 19 Desember. Secara teknikal harga masih terhalang oleh resistance SMA 50-hari yang signifikan.

Data persediaan minyak AS menunjukkan penurunan 3,8 juta barel untuk minggu yang berakhir pada 2 Januari, memberikan dorongan bagi skenario short covering. Penurunan tersebut merupakan penurunan terbesar sejak akhir Oktober dan menambah dinamika pasar. Namun risiko geopolitik dan potensi kendali atas Venezuela tetap menjadi faktor penentu arah lanjutnya.

Di poros risiko, laporan media mengisyaratkan bahwa langkah kendali AS atas industri minyak Venezuela bisa meningkatkan pasokan global dan menekan harga lebih lanjut. Laporan tersebut juga menyebut bahwa kebijakan terhadap PdVSA dapat diambil untuk menjaga kisaran harga sekitar 50 dolar per barel, menambah ketidakpastian jelang data ekonomi utama.

Faktor Fundamental yang Mempengaruhi Harga

Para pelaku pasar menantikan laporan Nonfarm Payrolls AS NFP untuk petunjuk rencana pemotongan suku bunga The Fed. Data ini akan mempengaruhi likuiditas dolar dan secara langsung berdampak pada harga minyak yang dinyatakan dalam dolar AS. Reaksi terhadap NFP bisa mengubah dinamika pasokan dan permintaan dalam waktu singkat.

Volatilitas tinggi dipicu oleh risiko geopolitik dan perubahan permintaan global yang belum pulih sepenuhnya. Analis menilai gabungan faktor fundamental seperti persediaan, kebijakan negara pemasok utama, dan perubahan kebijakan energi sebagai kunci arah berikutnya. Ketakutan terhadap pelemahan permintaan juga menambah beban pada harga minyak.

Dalam kajian jangka pendek, arah pasar sangat bergantung pada bagaimana pasar menafsirkan berita Venezuela dan kebijakan AS. Kisaran sekitar 58 dolar per barel bisa bertahan jika permintaan cukup kuat untuk mengimbangi lonjakan pasokan, namun perubahan kebijakan dapat menambah volatilitas dan menguji level tersebut.

Boost Your Business with Cutting-Edge Marketing Solutions Today

Your ad here
Image