Artikel ini dipersembahkan oleh Cetro Trading Insight
HSBC menilai bahwa kemenangan supermajoritas di parlemen Jepang mengubah kerangka kebijakan dan berpotensi membentuk dinamika Yen terhadap pasangan USD/JPY. Intervensi mata uang dapat menekan volatilitas dalam jangka pendek, namun tidak menyelesaikan masalah fiskal yang mendasar. Dalam konteks ini, pemulihan Yen yang berkelanjutan menuntut langkah kebijakan yang lebih jelas dari otoritas terkait. Secara keseluruhan, pergeseran kebijakan ini menambah kompleksitas bagi pasar FX di fase awal 2026.
Analisis tersebut juga menyoroti bahwa risiko intervensi masih berada di zona teknis sekitar 158-162, dan perhatian tetap pada apakah Kementerian Keuangan Jepang akan melakukan intervensi verbal secara tegas seperti Januari lalu. Sinyal koordinasi dengan otoritas AS juga bisa muncul lagi, menambah dimensi geopolitik pada pergerakan USD/JPY. Kondisi ini memperlihatkan bahwa pasar akan terus memantau pernyataan kebijakan dan respons pasar menjelang data fiskal terbaru.
Untuk mendorong pemulihan Yen yang lebih tahan lama, HSBC menekankan perlunya BoJ mengambil langkah pengetatan yang lebih proaktif dan fiskal yang lebih disiplin. Kebijakan tersebut diharapkan menarik arus modal domestik dan menurunkan volatilitas pasangan USD/JPY. Selain itu, langkah kebijakan yang menyelaraskan fiskal dengan tujuan moneter diharapkan membantu menormalisasi aliran modal dan mengurangi tekanan pada yen dalam jangka menengah.
Ketika USD/JPY diperdagangkan mendekati zona intervensi 158-162 pada periode April–Juli 2024, fokus pasar FX adalah pada apakah MoF akan melakukan intervensi verbal tegas seperti bulan Januari, atau apakah ada potensi intervensi terpadu dengan otoritas AS yang akan diberi sorotan lagi. Hambatan komunikasi kebijakan juga bisa memicu volatilitas jangka pendek, sehingga pelaku pasar mempertimbangkan risiko teknis dalam keputusan perdagangan.
Intervensi mata uang tidak menyelesaikan isu fiskal Jepang, namun bisa mendorong pelaku pasar menutup posisi short pada JPY untuk meredam volatilitas. Langkah ini cenderung menciptakan jeda bagi perumusan kebijakan lebih lanjut, sambil pasar menilai sinyal dari data fiskal serta respons kebijakan BoJ. Momentum pergeseran kebijakan akan sangat bergantung pada bagaimana data ekonomi dan reform fiskal berkembang dalam beberapa kuartal ke depan.
Intervensi semacam itu juga memberi waktu bagi pemerintah untuk menegakkan langkah-langkah kebijakan, seperti penyesuaian pajak untuk Nippon Individual Savings Account, regulasi baru, atau insentif bagi dana pensiun serta perusahaan asuransi untuk meningkatkan hedging FX atau mengalihkan investasi ke aset domestik. Dalam konteks ini, potensi kenaikan suku bunga BoJ dan disiplin fiskal yang lebih kuat menjadi faktor penting. Pembuat kebijakan bisa memanfaatkan jeda waktu untuk memperjelas komitmen fiskal dan menyiapkan kerangka kerja yang mendukung stabilitas nilai tukar jangka menengah.