Analisis oleh John Velis dari BNY Mellon menunjukkan bahwa jalur pelonggaran kebijakan bisa lebih luas daripada yang dihidupi pasar. Velis menilai bahwa keputusan kebijakan akan didorong oleh evolusi ekonomi inti, terutama data tenaga kerja, bukan sekadar arahan baru dari ketua Fed. Ia memperkirakan tiga pemotongan suku bunga pada sisa tahun ini, dibanding dua yang saat ini diharga pasar.
Menurut Velis, arah kebijakan akan ditentukan oleh pergerakan data makro yang sedang berkembang. Pandangannya menekankan bahwa proyeksi moneternya tidak mencerminkan bias hawkish atau dovish sang chair, melainkan ekspektasi terhadap bagaimana ekonomi akan bergerak ke depan. Dengan demikian, perubahan kebijakan menilai dinamika ekonomi secara agregat.
Velis juga menekankan bahwa mengubah kebijakan neraca atau menghentikan pembelian aset untuk manajemen cadangan bisa menimbulkan ketidakstabilan pasar uang jika tidak diimbangi oleh intervensi pasar terbuka yang konsisten.
Data tenaga kerja yang melemah berpeluang memperluas ruang bagi pelonggaran lebih lanjut, menurut Velis. Ia menekankan bahwa investor sebaiknya fokus pada indikator ekonomi riil daripada mencoba menilai orientasi pribadi pejabat Fed. Kondisi pasar bisa bereaksi berbeda jika data utama memburuk secara menyeluruh.
Setiap sinyal perlambatan data dapat mendorong Komite Pasar Terbuka Fed untuk melonggarkan kebijakan lebih lanjut, meskipun anggota dewan mungkin menekankan sikap netral terhadap kepemimpinan baru. Faktor ekonomi membuat kebijakan menjadi responsif terhadap data lebih dari label individu.
Rencana perubahan kebijakan neraca memerlukan konsensus komite; tanpa offset melalui program intervensi pasar, langkah tersebut berisiko menambah volatilitas likuiditas dan harga aset. Komentar Velis menekankan kehati-hatian dalam menyeimbangkan tujuan kebijakan dan stabilitas pasar.
Inti dari analisa ini adalah bahwa ekonomi, bukan potret kepemimpinan, yang akan menentukan jalur kebijakan. Pelaku pasar perlu menimbang data makro ekstensif sebelum mengambil posisi, karena sinyal kebijakan bisa berubah dengan cepat seiring evolusi data.
Untuk pasar keuangan, tiga potongan bisa berarti perbaikan kinerja obligasi dan potensi pelemahan dolar jika saat ini ekspektasi input kebijakan lebih dovish terkonfirmasi. Targetnya adalah menyeimbangkan risiko dan peluang dengan pola data ekonomi yang akan datang.
Akhirnya, manajemen neraca dan stabilitas likuiditas menjadi fokus penting. Bagi manajer portofolio, pemantauan data makro serta respons kebijakan akan menjadi panduan utama dalam mengarahkan pelaburan dan menjaga risk-reward minimal 1:1.5.