Di tengah volatilitas pasar global, IHSG kembali tertatih pada Jumat, melanjutkan koreksi yang sudah berjalan kemarin. Data BEI menunjukkan IHSG melemah 1,55% ke level 8.107,26 pada 09:10 WIB. Pergerakan ini menandai tekanan berkelanjutan bagi indeks utama bursa nasional dan menarik perhatian pelaku pasar yang kini menimbang risiko fiskal secara lebih serius.
S&P Global Ratings memperingatkan bahwa tekanan fiskal Indonesia meningkat, terutama terkait lonjakan biaya pembayaran utang yang berpotensi memperlemah profil kredit negara. Jika rasio pembayaran bunga terhadap pendapatan tetap berada di level tinggi dan tidak menunjukkan penurunan, pandangan terhadap peringkat bisa menjadi lebih negatif. Peringatan ini menambah kekhawatiran pasar tentang bagaimana reformasi fiskal dan tata kelola akan menjaga stabilitas fiskal dalam waktu dekat.
Secara rinci, 504 saham turun, 117 naik, dan 337 sisanya stagnan. Saham-saham konglomerat seperti Barito, Sinarmas, Astra, dan Bakrie menjadi pemberat utama indeks. Kondisi ini mencerminkan beban supply-demand yang tidak seimbang dan menambah tekanan bagi IHSG untuk mempertahankan level-support.
Analisis S&P menyoroti dua pilar utama: kerangka fiskal jangka menengah dan realisasi penerimaan negara. Mereka menilai bahwa menjaga defisit sesuai aturan dan menyeimbangkan pendapatan negara adalah kunci untuk menjaga daya dukung pembiayaan utang. Kementerian keuangan perlu memberikan sinyal kebijakan yang jelas agar pasar tidak terus menguji batas toleransi risiko fiskal.
Moody’s turun outlook Indonesia menjadi negatif, menandai kekhawatiran terkait tata kelola dan risiko fiskal. MSCI juga menyoroti perlunya reformasi pasar untuk meningkatkan investabilitas dan transparansi. Analisis di Cetro Trading Insight menilai bahwa langkah reformasi yang jelas dapat menahan arus keluar modal dan mendukung kepercayaan investor.
Meski pemerintah menegaskan reformasi pasar mulai menunjukkan kemajuan dan ekonomi menunjukkan tanda perbaikan, sentimen investor asing tetap rapuh. Regulator telah meluncurkan rencana reformasi pasar, termasuk peningkatan persentase free float untuk saham yang diperdagangkan di publik. Dalam konteks ini, peringkat kredit Indonesia tetap sensitif terhadap bagaimana fiskal dan penerimaan negara berjalan, sehingga volatilitas pasar sepertinya tetap menjadi bagian dari narasi investor.