
Kebijakan yang konsisten dan stabilitas makroekonomi adalah fondasi yang dicari investor untuk memastikan bahwa pemulihan IHSG tidak hanya bersifat sementara. Di antara berbagai faktor, kepastian pelaksanaan program reformasi menjadi penentu kepercayaan pasar. Tim analisis Cetro Trading Insight menilai bahwa fondasi kebijakan yang jelas dapat menjadi pendorong utama rerating ekuitas Indonesia dalam beberapa kuartal mendatang.
Laporan riset UOB Kay Hian tanggal 26 Juni 2026 menekankan bahwa perbaikan sentimen pasar perlu didukung langkah nyata dari pemerintah. Tanpa adanya langkah kongkret, pembalikan indeks saham tidak akan bertahan lama meski ada perbaikan jangka pendek. Perspektif kredibilitas kebijakan, regulasi, serta keputusan MSCI menjadi kunci pembatasan risiko dan peluang perbaikan valuasi.
Otoritas pasar modal Indonesia masih memiliki waktu hingga November untuk membuktikan efektivitas reformasi terkait transparansi dan tata kelola. Jika reformasi ini berjalan mulus, peluang terjadinya rerating positif terhadap saham domestik bisa meningkat. Namun, risiko masih ada jika implementasi tidak konsisten atau paket kebijakan menimbulkan ketidakpastian di pasar.
IHSG sepanjang tahun ini menjadi salah satu yang berkinerja terburuk secara global, turun sekitar 34,19 persen secara year to date hingga level 5.691 pada intraday 30 Juni 2026. Penurunan ini mencerminkan tekanan luas yang berasal dari faktor eksternal maupun internal pasar.
Meskipun ada pemulihan setelah mencapai level terendah pada awal Juni, kenaikan itu sebagian besar didorong oleh membaiknya sentimen investor, bukan peningkatan fundamental pasar. Hal ini membuat para analis menekankan perlunya konfirmasi data fundamental untuk menjaga tren positif di masa mendatang.
Analisis UOB menyoroti bahwa perbaikan sentimen didorong oleh kredibilitas kebijakan, kelegaan dari kekhawatiran regulasi, optimisme terkait keputusan MSCI, serta penurunan risiko geopolitik. Kunci untuk melanjutkan kenaikan adalah konsistensi pelaksanaan kebijakan dan stabilitas makro yang berkelanjutan.
Dengan katalis-katalis tersebut, para analis melihat peluang bagi terjadinya rerating terhadap saham Indonesia jika reformasi tata kelola pasar, stabilitas ekonomi, dan kebijakan dilakukan secara konsisten. Upaya ini dapat memperkuat kepercayaan investor jangka panjang dan menambah ruang bagi valuasi yang lebih tinggi. Tim Cetro Trading Insight menilai bahwa progres nyata dalam reformasi akan menjadi sinyal penting bagi pasar.
Kementerian keuangan dan otoritas pasar dinilai memiliki peluang untuk memperkuat tata kelola, menjaga stabilitas, dan menjaga kepercayaan investor jangka panjang. Perbaikan transparansi, tata kelola perusahaan, serta peningkatan kualitas data pasar dapat menjadi pendorong rerating. Skenario positif memerlukan konsistensi pelaksanaan kebijakan sehingga volatilitas dapat dikelola dengan lebih baik.
Target IHSG akhir 2026 diperkirakan di kisaran 7.500 menurut beberapa skenario, meskipun realisasinya sangat bergantung pada implementasi reformasi yang berkelanjutan. Tim Cetro Trading Insight menekankan bahwa peluang ini bisa terwujud jika risk-reward sesuai dan volatilitas pasar terkendali.