IHSG Menguat Didukung Grup Bakrie-Barito; FTSE Russell Tunda Review Indeks Indonesia

IHSG Menguat Didukung Grup Bakrie-Barito; FTSE Russell Tunda Review Indeks Indonesia

trading sekarang

Di bawah sorot Cetro Trading Insight, IHSG melesat mengejutkan di pembukaan perdagangan, menembus level 8.128,69 poin meski bayang-bayang penundaan review indeks oleh FTSE Russell masih menggantung di pasar. Lonjakan ini menandai rebound yang dinantikan investor setelah sesi sebelumnya, dan menunjukkan adanya minat beli yang cukup kuat di kalangan pelaku domestik. Pada pukul 10.09 WIB, IHSG tercatat menguat 1,21% menjadi 8.128,69 poin, dengan total nilai transaksi sekitar Rp7,20 triliun dan volume 16,75 miliar saham.

Meningkatnya indeks didorong oleh saham-saham konglomerat yang menjadi penopang utama pasar. Saham PT Bumi Resources Tbk BUMI dan BRMS naik signifikan masing-masing 7,50% menjadi 258 per unit dan 3,47% menjadi 1.045 per unit, menyumbang sebagian besar pergerakan IHSG. Di sisi lain, saham grup Barito juga memperlihatkan kinerja positif, dengan CDIA melonjak 5,26% dan BRPT menambah 2,76%.

Para analis menilai respons pasar yang relatif tenang terhadap berita penundaan review indeks merupakan indikasi bahwa harga telah mencerminkan potensi perubahan kebijakan. Menurut analis Michael Yeoh, meski FTSE Russell menunda evaluasi, pernyataan penting bahwa penilaian bukan terhadap klasifikasi negara menunjukkan posisi Indonesia tetap kuat secara ukuran dan prospek. Hal ini menambah kepercayaan bahwa IHSG dapat menjaga tren pemulihan jangka pendek meskipun volatilitas global masih ada.

Saham-saham dari grup Bakrie-Salim menjadi motor penggerak utama indeks pada hari itu. BUMI dan BRMS menunjukkan aksi beli yang luas dengan kenaikan berturut-turut 7,50% dan 3,47%, mengangkat harga masing-masing menjadi 258 dan 1.045. Peningkatan ini membantu menjaga lonjakan IHSG meskipun ada beberapa saham lain yang flat.

Dari sisi Barito, saham CDIA melesat 5,26% dan BRPT menguat 2,76%, menambah bobot positif pada sektor properti dan energi. Pergerakan dua emiten ini mencerminkan minat investor terhadap saham-saham konglomerat yang selama ini menjadi gearing pasar domestik. Aktivitas investor masih terlihat tinggi dengan nilai transaksi yang signifikan.

Analisis teknikal menunjukkan bahwa pergerakan saham-saham utama ini beriringan dengan optimisme terhadap reformasi pasar modal yang sedang berlangsung. Meski tidak semua emiten melonjak, keseimbangan antara saham unggulan dan saham berkapitalisasi besar membantu menjaga reli IHSG. Investor tampaknya terus menakar peluang sambil menunggu arahan kebijakan berikutnya dari otoritas.

FTSE Russell memutuskan menunda pelaksanaan review indeks Indonesia yang semula dijadwalkan pada Maret 2026. Keputusan ini diambil menyusul reformasi pasar modal yang sedang dijalankan OJK dan BEI, serta masukan eksternal dari komite penasihat. Penundaan ini bertujuan memberi ruang bagi penyempurnaan kebijakan terkait integritas, transparansi, serta porsi free float saham di tengah proses reformasi.

Penundaan tersebut juga berarti sejumlah aksi korporasi untuk saham Indonesia yang tercatat di indeksnya dihentikan sementara, seperti penambahan saham IPO baru, perubahan segmen, dan penyesuaian jumlah saham beredar. Meski demikian, beberapa aksi tetap dijalankan, seperti merger, akuisisi, delisting, stock split, bonus, dan pembagian dividen. FTSE Russell menegaskan bahwa keputusan tersebut tidak berkaitan dengan klasifikasi negara secara keseluruhan.

Di tengah ini, pasar juga menyimak dinamika lain seperti rekomendasi MSCI yang menyoroti investasi di Indonesia dan langkah pemerintah menurunkan ambang kewajiban pengungkapan kepemilikan saham menjadi 1% dari sebelumnya 5%. Pemerintah dan otoritas sedang terus berkomunikasi dengan MSCI untuk menyeimbangkan kepatuhan dan kelayakan investabilitas. Investor menanti pembaruan review GEIS pada Mei 2026 dan keputusan Juni 2026 untuk arah alokasi portofolio domestik lebih jelas.

broker terbaik indonesia