IHSG tersenyum lebar: naik 0,81% ke 8.197 pada jam perdagangan pagi, menandai kelanjutan fase pemulihan setelah beberapa sesi koreksi. Pelaku pasar menakar sinyal dari pertemuan antara para pengusaha besar dengan Presiden Prabowo sebagai pendorong utama likuiditas. Cetro Trading Insight melihat momentum ini sebagai bagian dari perubahan sentimen menuju pemulihan yang lebih konkret.
Tekanan jual yang sebelumnya menekan indeks mulai mereda setelah koreksi tajam di akhir Januari hingga awal Februari. Sinyal global turut berpengaruh, terutama peringatan MSCI terkait investabilitas dan struktur kepemilikan emiten di bursa domestik. Moody\'s juga menurunkan outlook Indonesia, disusul rekomendasi beberapa bank investasi yang menimbang ulang saham negara. Pemerintah dan otoritas pasar menanggapinya dengan memperkuat koordinasi.
Secara teknikal dan fundamental, investor memperhatikan pergerakan saham konglomerat yang terkait dengan Barito dan Sinar Mas. Beberapa emiten unggulan menunjukkan kinerja positif pada perdagangan hari ini. Lonjakan harga menunjukkan minat beli yang lebih kuat meski volatilitas tetap ada.
Dinamika harga saham Grup Konglomerat terlihat menanjak, dipimpin oleh PT Petrosea Tbk PTRO yang melonjak 12,13% ke Rp6.700 per unit. Sejalan dengan itu, saham CUAN naik 7,01% ke Rp1.755 dan BRPT menguat 3,45% ke Rp2.100, sementara CDIA naik 2,67% menjadi Rp1.155. Rilis data harian menunjukkan minat beli meningkat pada emiten terkait dengan aktivitas konstruksi dan energi milik kelompok usaha besar.
Kinerja emiten terkait tetap didorong oleh kebijakan dan optimisme pelaku pasar terhadap prospek sektor riil. Sementara itu, saham Barito Group seperti BUMI dan BRMS juga bergerak positif, di samping penopang lainnya seperti ENRG yang naik mendekati 5% dan VKTR yang melonjak. Sektor agribisnis dan properti dari jajaran Salim juga menunjukkan momentum positif, meski variasi pergerakannya berbeda antar saham.
Analyst pasar melihat pertemuan antara kalangan konglomerat dengan pejabat utama negara sebagai sinyal positif bagi sentimen pasar. Pasar menimbang kemungkinan adanya koordinasi kebijakan yang mempercepat pengembangan proyek infrastruktur dan program strategis. Perkembangan ini memberi prospek stabilitas bagi investor jangka menengah.
Inti diskusi menekankan pentingnya Indonesia Incorporated, yaitu kerjasama lintas sektor antara pemerintah, dunia usaha, dan pemangku kepentingan untuk meningkatkan daya saing nasional. Poin utama adalah memperkuat kolaborasi guna mempercepat pembangunan infrastruktur, kualitas sumber daya manusia, dan kedaulatan pangan serta energi. Hal ini diharapkan menjadi fondasi bagi iklim investasi yang lebih sehat dan berkelanjutan.
Pengusaha yang hadir menyatakan kesiapan untuk terlibat pada sejumlah sektor strategis seperti pangan bergizi, pendidikan, kesehatan, rumah subsidi, UMKM, serta program kampung nelayan. Mereka menekankan komitmen untuk memperluas lapangan kerja melalui penguatan sektor riil dan ekosistem usaha mikro kecil menengah. Pemerintah juga didorong untuk memperkuat dukungan kebijakan terkait pembiayaan, kemudahan berusaha, dan akses pasar bagi UMKM.
Dengan penekanan pada kolaborasi mulus antara sektor publik dan privat, prospek pasar dipandang lebih mantap dalam jangka menengah. Investor dapat menimbang peluang di sektor infrastruktur, energi terbarukan, dan industri yang memanfaatkan program pembangunan nasional. Namun volatilitas tetap ada dan manajemen risiko menjadi kunci untuk menjaga keseimbangan portofolio.