Kepada pembaca Cetro Trading Insight, Ramadan membawa dinamika khusus bagi IHSG. IHSG ditutup melemah 0,43 persen ke 8.274,08 pada Kamis 19 Februari 2026, meski nilai transaksi tetap tinggi sekitar Rp26 triliun. Hal ini menunjukkan minat pelaku pasar meskipun menghadapi pelambatan musiman menjelang bulan suci.
Meskipun IHSG berada di zona merah, minat perdagangan tetap relatif tinggi, dengan transaksi sekitar Rp26 triliun pada hari itu. Investor melihat peluang di saham beruntun meski indeks sedang turun. Analis menyebut Ramadan cenderung membawa volatilitas terbatas dan potensi konsolidasi jangka pendek.
Secara teknikal, IHSG sempat mencapai 8.376 intraday namun tertahan oleh MA-20. Pola candlestick menyerupai dark cloud cover menunjukkan potensi konsolidasi lebih lanjut menuju 8.170 sebagai support MA-10. Risiko pasar ikut terdorong oleh dinamika global maupun domestik yang bisa memengaruhi arah jangka pendek.
Di sisi kebijakan moneter, Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan di 4,75 persen pada Kamis 19 Februari. Kebijakan ini menjaga arus modal dan volatilitas kurs tetap terkendali. Rupiah pun ditutup di kisaran 16.888 per dolar AS, mencerminkan stabilitas relatif meski faktor eksternal masih ada.
Analis Kiwoom Sekuritas menyoroti bahwa minat pelaku pasar tidak memudar di awal Ramadan, meski aktivitas cenderung melambat secara historis. Mereka menilai pergerakan IHSG yang sideways selama sebulan pertama Ramadan adalah hal yang normal secara historis. Sinyal sentiment domestik dan rilis kinerja emiten menjadi pendorong utama volatilitas.
Dinamika sentimen pasar terlihat dari pergerakan intraday dan respons terhadap berita rilis. Meski momentum belum jelas, fokus investor tertuju pada saham atau sektor dengan katalis positif baik dari dalam negeri maupun pengaruh global. Dalam konteks ini, beberapa analis menyarankan strategi bertahap untuk mengurangi risiko dan menjaga peluang hangat di pasar.
Sinyal teknikal yang muncul dari pembacaan grafik IHSG menunjukkan potensi konsolidasi setelah pola dark cloud cover teramati. Indeks sempat menembus level tinggi 8.376 namun gagal menopang, memberi sinyal kehati-hatian bagi trader jangka pendek. Dengan dinamika Ramadan dan retest resistance MA-20, peluang rebound jangka pendek tetap ada namun perlu konfirmasi lebih lanjut.
Secara level teknikal, resistance MA-20 menjadi penghalang intraday dan MA-10 mendekati sekitar 8.170 sebagai area support utama. Penurunan menuju area tersebut bisa menjadi peluang bagi trader yang memperkirakan kelanjutan pola sideways. Namun jika irama pasar menembus di atas MA-20, skenario bullish dapat muncul dengan peluang untuk melanjutkan tren ke posisi lebih tinggi.
Dalam konteks strategi trading, Kiwoom Sekuritas menyarankan pendekatan average up secara bertahap untuk menghadapi volatilitas Ramadan. Manfaatnya adalah mengurangi risiko sekaligus memanfaatkan pergeseran harga seiring rilis kinerja emiten. Risk reward yang direkomendasikan minimal 1:1,5 sehingga trader perlu memantau faktor teknikal dan sentimen secara ketat.