
IHSG rebound 4% menjadi sinyal kuat bahwa minat beli mulai pulih meski volatilitas pasar masih tinggi. Fokus hari ini tertuju pada skema pembelian kembali (buyback) saham-saham BUMN yang memiliki fundamental kuat. Analisis dari Cetro Trading Insight menilai langkah ini dapat menjadi pendorong likuiditas dan potensi akumulasi bagi investor jangka menengah.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) hingga pukul 11.30 WIB, IHSG menguat 4,07% ke level 5.559,49. Nilai transaksi tercatat sekitar Rp11,39 triliun dengan volume perdagangan 18,90 miliar saham. Meski menguat, sebagian besar saham masih menghadapi tekanan akibat dinamika global yang turut mempengaruhi arah pasar domestik.
Wacana pembelian kembali saham (buyback) yang diangkat Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad bersama jajaran Himbara, Taspen, BPJS Kesehatan, dan INA, membuka diskusi soal bagaimana saham-saham BUMN—khususnya di sektor perbankan—dapat kembali menarik minat investor. Dalam pertemuan di Kompleks Parlemen, mereka menilai saham-saham bagus tetapi pasar global menambah ketidakpastian. Dasco menegaskan momentum saat ini bisa menjadi peluang untuk kembali mengoleksi saham-saham perbankan pelat merah, asalkan timing dan pelaksanaan dilakukan dengan hati-hati.
Meski IHSG sempat membaik, gambaran makro teknikal menunjukkan tekanan besar: koreksi mingguan mencapai 9,30% dan koreksi bulanan sekitar 20,29%. Faktor eksternal dan domestik, termasuk pelemahan rupiah yang menyentuh kisaran Rp18.177 per dolar AS, memperkuat kehati-hatian investor. Di tengah situasi itu, wacana buyback memberi sedikit sinyal positif namun masih membutuhkan konfirmasi harga.
BRI Danareksa Sekuritas menilai gagasan buyback bisa menjadi katalis positif bagi saham-saham BUMN, terutama bank pelat merah yang sudah berada di bawah tekanan sepanjang 2026. Namun mereka menekankan bahwa efektivitasnya bergantung pada kebijakan, timing, serta keberlanjutan prudent management. Secara teknikal, IHSG memerlukan konfirmasi rebound berkelanjutan sebelum menilai peluang yang lebih besar bagi investor.
Menurut Wakil Ketua DPR, momentum saat ini bisa dimanfaatkan untuk menyehatkan likuiditas pasar melalui buyback. Para eksekutif bank-bank besar seperti BNI, Mandiri, dan BRI hadir dalam pertemuan tersebut untuk membahas langkah yang tepat dalam konteks pasar yang bergejolak. Cetro Trading Insight melihat berita ini sebagai sinyal positif jika disertai transparansi program buyback dan dukungan kebijakan yang jelas.
Ketertarikan pada saham bank merah bisa menjadi strategi akumulasi yang menarik bagi investor jangka menengah, asalkan potensi koreksi global tidak membuat risiko melebihi imbalan. Momentum ini perlu diiringi manajemen risiko yang ketat dan diversifikasi portofolio. Cetro Trading Insight menekankan perlunya fokus pada saham perbankan yang memiliki fundamental kuat dan likuiditas cukup.
Pembuat kebijakan dan emiten BUMN perlu menyediakan rencana buyback yang jelas, batasan anggaran, serta transparansi operasional untuk mencegah confusions akibat overhang harga. Dengan langkah-langkah demikian, likuiditas pasar dapat meningkat tanpa mengompromikan fundamental perusahaan. Investor juga perlu memantau kinerja keuangan BUMN dan dinamika kurs untuk menilai risiko makro.
Untuk investor, saat ini adalah momen memantau pengumuman resmi terkait buyback dan respons pasar. Sinyal trading akan bergantung pada konfirmasi aksi tersebut serta bagaimana pasar meresponsnya secara real time. Cetro Trading Insight merekomendasikan fokus pada saham-saham BUMN berfundamental kuat dan mengatur eksposur sesuai profil risiko.