
Di dalam rangkaian analisis terkini, WIIM dinilai memiliki peluang pertumbuhan yang menarik dalam jangka menengah hingga panjang. Menurut analisis dari Nomura Heng Siong Kong, yang dikutip Dow Jones Newswires pada 9 Juni 2026, prospek perseroan tampak didorong oleh produk sigaret kretek tangan (SKT) dan bisnis filter yang diperkirakan menaikkan volume penjualan. Cetro Trading Insight menilai ini menjadi gambaran positif bagi investor jangka menengah.
Segmen filter disebut sebagai motor pertumbuhan tercepat bagi WIIM saat ini, mendapat manfaat dari permintaan tinggi atas rokok dengan harga terjangkau. Peningkatan volume segmen ini berpotensi mendorong kinerja penjualan secara keseluruhan serta memperkuat posisi WIIM di pasar domestik.
Selain itu, produk WIIM Slim dinilai memiliki keunggulan diferensiasi dengan varian rasa buah yang lebih banyak, menjangkau basis konsumen yang lebih luas, terutama kalangan perokok muda, sehingga prospek pertumbuhannya makin menjanjikan.
Kinerja keuangan WIIM pada 2025 menunjukkan lonjakan signifikan dengan laba bersih sebesar Rp419,21 miliar naik 40,35% dibandingkan 2024. Peningkatan laba sejalan dengan pertumbuhan penjualan neto sebesar 34,33% menjadi Rp6,38 triliun, mencerminkan efisiensi operasional dan permintaan domestik yang kuat.
Sebagian besar pendapatan WIIM bersumber dari pasar domestik yakni Rp6,35 triliun atau 98,62% dari total pendapatan, meningkat 35,63% dari tahun sebelumnya. Hal ini menegaskan eksposur perusahaan terhadap konsumen dalam negeri yang tetap solid meskipun dinamika ekonomi makro sedang berubah.
Rincian segmentasi menunjukkan sumbangan pertumbuhan yang berbeda-beda: penjualan sigaret kretek mesin SKM melonjak 52,23% menjadi Rp4,05 triliun; penjualan filter naik 23,06% menjadi Rp1,42 triliun; sigaret kretek tangan SKT tumbuh 0,86% menjadi Rp873,16 miliar; dan cerutu meningkat 22,48% menjadi Rp3,45 miliar. Nomura juga menaikkan target harga WIIM menjadi Rp3.950 per saham dengan rekomendasi Buy yang tetap relevan. Sementara itu WIIM diperdagangkan di Rp1.485 per unit secara year to date, menandai koreksi sekitar 10% dari awal tahun. Dividen tunai 2025 sebesar Rp217,87 miliar atau Rp104,4 per saham akan dibayarkan 12 Juni 2026.