
IHSG akhirnya menunjukkan rebound teknikal setelah tekanan akibat rebalancing MSCI dan arus keluar asing yang belum mereda. Cetro Trading Insight mencatat bahwa indeks berupaya menjaga level psikologis 6.000 sebagai penopang penting. Pergerakan ini menandai fase rebound yang sedang berlangsung di pasar modal Tanah Air.
Menyasar sektor-sektor unggulan, saham PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) melesat 15,58% menuju Rp2.040, setelah sempat menyentuh Rp2.200. Lonjakan itu menandai upaya mengakhiri tren pelemahan tujuh hari berturut-turut yang membayangi indeks. Di samping itu, saham Grup Barito lain seperti CUAN, BRPT, dan PTRO juga ikut melaju, menambah dinamika positif pada perdagangan hari ini.
Analis menilai pergerakan tersebut bersifat teknikal, karena IHSG baru saja menyentuh area target koreksi. Meski demikian, arus keluar yang masih tinggi membuat peluang rebound tetap bergantung pada sentimen global dan aliran dana investor. IHSG perlu dipertahankan di atas level 6.000 untuk menjaga tren positif jangka pendek.
Menurut BRI Danareksa Sekuritas, IHSG masih berada di kisaran 5.900–6.100 dan memiliki peluang rebound terbatas menuju 6.250–6.300 jika momentum tetap terjaga. Kondisi ini menandakan adanya peluang teknikal yang tetap relevan dalam agenda perdagangan pekan ini. Namun volatilitas pasar tetap menjadi bagian dari lanskap jelang faktor eksternal seperti negosiasi internasional dan rebalancing MSCI.
Pergerakan harga saham Grup Barito pasca lonjakan menandakan minat beli kembali meski arus asing tetap dominan keluar. Pengamat menilai dinamika antar emiten menunjukkan respons pasar terhadap pergeseran sentimen dan koreksi IHSG yang mulai mereda. Faktor tambahan seperti negosiasi Iran-AS, pembaruan MSCI, dan potensi aksi ambil untung menjelang libur bursa menjadi pemicu volatil yang perlu diawasi.
Target resistance teknikal berada di kisaran 6.250–6.300 jika IHSG mampu menjaga momentum. Sementara support utama berada di 5.900–6.100 sebagai lantai teknikal untuk menjaga tren rebound. Dengan demikian, peluang perdagangan tetap ada asalkan risiko dikelola, mengingat rasio risiko-imbalan minimal 1:1.5.