
IHSG tertekan di awal perdagangan, dengan potensi pelemahan berlanjut ke level signifikan. Menurut riset Cetro Trading Insight, pada hari Kamis IHSG terkoreksi 4,11 persen ke level 5.941, disertai tekanan jual yang meningkat. Momentum saat ini menunjukkan volatilitas yang tinggi meski ada peluang rebound teknis di level-level kunci yang perlu diwaspadai pelaku pasar. Riset ini mencoba memberikan gambaran bagi investor ritel maupun institusional tentang arah jangka pendek indeks utama tersebut.
Analis MNC Sekuritas menilai koreksi IHSG sudah mencapai area support penting dan membuka peluang bagi pergerakan lanjutan. Mereka menyatakan IHSG saat ini berada di bagian dari wave [v] dari wave A dari wave (2), sebuah gambaran teknikal yang menandakan fase korektif yang masih bisa berlanjut sebelum konfirmasi pembalikan tren. Perspektif ini relevan bagi mereka yang mengikuti alur gelombang Elliot dalam analisis pasar saham Indonesia.
Riset MNC Sekuritas melanjutkan dengan pedoman level penting untuk kehati-hatian trader. Area koreksi berikutnya diproyeksikan berada pada kisaran 5.755–5.814, sementara wilayah penguatan terdekat berada di 5.958–5.984. Adapun level support terkuat diperkirakan berada di 5.899 dan 5.755, sedangkan resistance berada di 6.111 dan 6.286. Kerangka teknikal ini dapat menjadi landasan penentuan titik masuk dan keluar bagi portofolio saham hari ini.
AADI tercatat turun 3,90 persen ke Rp8.000 dan disertai peningkatan tekanan jual, menandai posisi teknikal yang sedang direposisi dalam koreksi. Secara garis besar, analisa teknikal menunjukkan AADI berada pada bagian wave (v) dari wave [c] dari wave B, sehingga peluang entry tetap terbuka bagi investor yang sabar menunggu koreksi wajar. Rekomendasi Buy on Weakness mengarahkan pembelian pada kisaran Rp7.450–Rp7.825, mencerminkan peluang memanfaatkan penurunan minor untuk posisi long.
Target harga untuk AADI dipetakan pada Rp8.500 dan Rp9.125, dengan stoploss di bawah Rp7.350. Kombinasi target yang terukur dan batas kerugian yang jelas menjadi landasan bagi para pelaku pasar yang ingin mengambil posisi buy, terutama dalam konteks volatilitas yang mungkin muncul di sesi berikutnya. Investor disarankan memantau dinamika harga dan tetap menimbang risiko sesuai manajemen modal.
BMRI juga mengalami koreksi 2,88 persen menjadi Rp4.050, disertai munculnya tekanan jual. Dari sisi teknikal, BMRI diperkirakan berada pada bagian wave (v) dari wave [c] dari wave A, sehingga rekomendasi Buy on Weakness tetap relevan untuk diproses. Rencana masuk yang direkomendasikan adalah di kisaran Rp3.880–Rp4.010, dengan target harga Rp4.220 dan Rp4.320 serta stoploss di bawah Rp3.860. Penempatan titik masuk yang dekat level support menambah peluang prospek kenaikan yang layak diperhitungkan.
BUMI menunjukkan penurunan tajam sebesar 8,07 persen menjadi Rp148, disertai peningkatan tekanan jual. Analisis menyebut BUMI berada pada bagian wave [v] dari wave C dari wave (Y), sehingga sinyal Buy on Weakness tetap menjadi pilihan. Rekomendasi entry berada pada rentang Rp129–Rp144, dengan target Rp162 dan Rp199, serta stoploss di bawah Rp126. Struktur teknikal ini menandakan peluang rebound yang bisa dimanfaatkan jika harga berhasil membentuk higher low.
MEDC tercatat turun 2,30 persen ke Rp1.275, dan direkomendasikan Trading Buy. Posisi MEDC diperkirakan berada pada bagian dari wave [iv] dari wave C dari wave (A), menunjukkan momentum yang konsisten untuk aksi beli pada level-entry Rp1.220–Rp1.250. Target harga yang disarankan adalah Rp1.340 dan Rp1.430, dengan stoploss di bawah Rp1.210. Strategi ini menekankan continuity posisi long selama harga tidak menembus batas stoploss yang telah ditetapkan.
Dengan adanya beberapa sinyal teknikal yang mendorong aksi beli pada beberapa saham, permintaan jangka pendek menunjukkan potensi perbaikan. Para investor dianjurkan menggabungkan sinyal pada MEDC, AADI, BMRI, dan BUMI dengan manajemen risiko yang ketat dan ketelitian terhadap perubahan dinamika pasar. Pemantauan volatilitas dan faktor fundamental tetap penting untuk menjaga keseimbangan portofolio.