IHSG Turun 1,60% ke 8.103 di Sesi I 2 Maret 2026: Tekanan Sektor Melanda Pasar, Energi Cenderung Tahan

IHSG Turun 1,60% ke 8.103 di Sesi I 2 Maret 2026: Tekanan Sektor Melanda Pasar, Energi Cenderung Tahan

trading sekarang

IHSG melanjutkan koreksi pada sesi I hari ini dengan penurunan 1,60% ke level 8.103. Pergerakan tersebut menegaskan kembali tekanan jual yang melanda pasar saham Indonesia. Volume transaksi menunjukkan aktivitas cukup tinggi, mencapai 31,5 miliar lembar saham.

Nilai transaksi tercatat Rp16,5 triliun, menandakan likuiditas pasar tetap relatif kuat meski arah IHSG sedang negatif. Saat ini, terdapat 113 saham menguat dan 682 melemah, sementara 163 saham stagnan. Kondisi ini menggambarkan dinamika investor yang selektif dalam memilih saham pada hari ini.

Berbagai sektor terdampak penurunan, terutama keuangan, bahan baku, transportasi, industri, konsumen non siklikal, infrastruktur, konsumen siklikal, properti, teknologi, dan kesehatan. Sektor energi menjadi satu-satunya yang mampu menguat di zona hijau. Kondisi ini menekankan pentingnya pemilihan saham secara cermat bagi para pelaku pasar.

Beberapa sektor utama melemah, mencakup keuangan, bahan baku, transportasi, industri, konsumen non siklikal, infrastruktur, konsumen siklikal, properti, teknologi, dan kesehatan. Penurunan luas ini menunjukkan adanya tekanan jual yang meluas di pasar. Sementara itu, sektor energi berhasil menguat, menjadi satu-satunya sektor yang posisinya hijau pada sesi ini.

Di antara pemimpin pergerakan harga, beberapa saham berhasil rebound meski indeks mayoritas turun. OILS (Indo Oil Perkasa) melonjak 29,59%, diikuti IFSH 22,91%, dan APEX 21,15% dalam daftar top gainers. Lonjakan ini menunjukkan adanya peluang perdagangan pada saham-saham dengan narasi khusus atau katalis perusahaan yang kuat.

Di sisi sebaliknya, beberapa emiten mencatat kerugian signifikan. POLI turun sekitar 15%, SKBM melepas 14,77%, dan SOTS turun 14,68%. Kinerja buruk pada saham-saham ini mencerminkan pergeseran sentimen investor di segmen-segmen tertentu pasar.

Pergeseran seperti ini menuntut strategi investasi yang lebih waspada dan terukur. Bagi investor ritel, diversifikasi portofolio dan manajemen risiko menjadi kunci untuk menghadapi volatilitas yang tinggi. Memantau tingkat likuiditas saham-saham pemimpin pergerakan juga menjadi bagian dari pendekatan yang prudent.

Analisis mendasar tetap relevan: fokus pada saham-saham dengan fundamental kuat meski kondisi makro sedang tidak menentu. Untuk trader, pendekatan jangka pendek dengan pembatasan risiko bisa menjadi pilihan, terutama pada saham-saham yang menunjukkan volatilitas signifikan namun likuid.

Sejumlah rekomendasi disampaikan oleh Cetro Trading Insight sebagai bagian dari liputan pasar hari ini. Kami menekankan pentingnya memantau pergerakan IHSG secara menyeluruh, memperhatikan saham pemimpin penggerak indeks, dan menjaga disiplin risiko dalam setiap transaksi. Evaluasi menyeluruh terhadap laporan keuangan serta faktor eksternal dapat membantu investor menimbang peluang di sesi perdagangan berikutnya.

broker terbaik indonesia