IHSG ditutup melemah 2,2 persen di level 7.026,78 poin. Pergerakan indeks tidak mengikuti rebound kemarin dan cenderung melemah saat menghadapi libur panjang. Pada hari itu Cetro Trading Insight mencermati sinyal pasar yang cenderung hati-hati menjelang akhir sesi.
Sepanjang sesi perdagangan, IHSG bergerak di zona merah dan akhirnya menutup lebih rendah menjelang sesi II. Aktivitas transaksi terlihat lesu dengan likuiditas tipis di pasar. Nilai transaksi hari itu tercatat sekitar Rp12 triliun, lebih rendah dibanding hari sebelumnya.
Kinerja IHSG tidak berdiri sendiri. Indeks-indeks lain juga turun, dengan IDX30 turun 1,2% dan LQ45 turun 1,7%. Di sektor syariah, JII dan ISSI juga anjlok sekitar 2% dan 2,3%.
Saham-saham milik Bakrie Group mengalami tekanan jual signifikan. BUMI turun 4,2% ke Rp228, sementara DEWA terpangkas 7,3% ke Rp468. Penurunan ini mencerminkan dinamika pasar yang lebih risk-on pada beberapa emiten energi dan tambang.
Saham lain milik grup tersebut juga melemah, seperti BRMS turun 5,8% ke Rp735. ENRG juga terkoreksi 3,5% menjadi Rp1.500. Kondisi ini memperlihatkan tekanan harga yang meluas di portofolio Bakrie.
Di sisi berlawanan, beberapa saham masuk jajaran top gainers. MSIN melonjak 25% ke Rp835, diikuti MNCN naik 5,4% ke Rp232 dan KPIG menguat 4,8% ke Rp110. Pergerakan ini menunjukkan adanya heterogenitas sentimen di pasar meski IHSG sedang melemah.
Secara sektoral, kinerja kurang menggembirakan secara umum kecuali kelompok CYCLICAL yang menguat 0,4%. Penguatan CYCLICAL didorong oleh saham-saham milik MNC Group seperti MSIN, MNCN, dan KPIG yang terlihat menambah daya dorong indeks sektoral.
Sektor BASIC-INDUSTRY anjlok sekitar 4,9%, INFRASTRUCTURE turun 3,96%, dan ENERGY melemah 2,94%. Tekanan ini menambah tekanan keseluruhan IHSG lantaran komoditas energi menjadi kontributor utama penurunan. Sementara itu, sektor lain juga mencetak dinamika harga yang berfluktuasi.
Dengan likuiditas yang relatif tipis menjelang libur, volatilitas pasar bisa meningkat namun arah jangka pendek cenderung tertekan. Investor disarankan untuk melakukan evaluasi risiko dan menimbang potensi rebound pasca libur dengan cermat. Arah pasar akan sangat bergantung pada sentimen global dan ritme penawaran serta permintaan pasca libur.