
Indofarma Tbk (INAF) mengguncang pangsa farmasi nasional dengan belokan kinerja yang mencuri perhatian investor. Dalam laporan keuangan tiga bulan pertama 2026, rugi usaha turun drastis menjadi Rp3,17 miliar, jauh lebih ringan dibanding Rp25,43 miliar pada periode sama tahun lalu. Menurut analisis awal dari Cetro Trading Insight, perubahan ini menandai momen kebangkitan bagi perseroan di tengah tekanan biaya produksi dan persaingan.
Rugi periode berjalan hingga Maret 2026 tercatat Rp7,55 miliar, meredam kerugian dibanding Maret 2025 sebesar Rp25,1 miliar. Penurunan rugi ini mencerminkan kombinasi peningkatan penjualan sambil menjaga biaya tetap terkendali. Meski tetap berada dalam konteks pasar yang menantang, tren perbaikan ini menjadi sinyal positif bagi prospek jangka pendek perseroan.
Penjualan INAF mencapai Rp53,32 miliar pada kuartal III-2026, meningkat 45% dibandingkan periode sama tahun lalu Rp36,92 miliar. Penjualan domestik mendominasi dengan Rp42,01 miliar. Vaksin menjadi kontributor utama dengan Rp36,86 miliar, disusul produk ethical Rp4,51 miliar, serta segmen alat kesehatan/jasa klinik serta lainnya sebesar Rp642,78 juta.
Vaksin menjadi tulang punggung penjualan INAF pada periode ini, mencerminkan fokus perseroan pada lini produk strategis. Penjualan vaksin tercatat Rp36,86 miliar, menjadi sumbu utama pertumbuhan dibanding produk lain. Selain itu, produk ethical juga memberikan kontribusi signifikan sebesar Rp4,51 miliar.
Pasar domestik tetap menjadi sumber utama penjualan, dengan Rp42,01 miliar. Penjualan ekspor tercatat Rp10,35 miliar untuk over the counter, sedangkan produk ethical di segmen ekspor mencapai Rp952,78 juta. Dari sisi pembeli utama, INAF menyebut Bio Farma (Persero), Kimia Farma Trading and Distribution, dan Hikmat Hanifi Ltd sebagai mitra utama pada kuartal I-2025.
Beban penjualan turun signifikan dari Rp3,88 miliar menjadi Rp353,1 juta. Sementara itu beban umum dan administrasi turun hampir dua kali lipat dari Rp12,7 miliar menjadi Rp6,55 miliar per kuartal I-2026. Penurunan biaya ini berkontribusi pada upaya memperbaiki efisiensi operasional dan arus kas perseroan.
Langkah efisiensi biaya memperlihatkan dampak nyata pada profil keuangan INAF. Rugi periode berjalan berkurang seiring penurunan beban perseroan; beban penjualan turun dari Rp3,88 miliar menjadi Rp353,1 juta dan beban G&A turun dari Rp12,7 miliar menjadi Rp6,55 miliar. Dengan struktur biaya yang lebih ramping, perseroan berupaya menjaga margin meskipun dinamika pasar tetap dinamis.
Strategi fokus pada vaksin serta produk ethical menjadi pilar kinerja di masa mendatang. Upaya menjaga volume penjualan melalui jaringan distribusi domestik yang lebih kuat menjadi bagian dari rencana ini. Secara makro, kinerja fundamental INAF memberi dukungan bagi investor untuk menimbang potensi jangka menengah akibat ketahanan produk unggulan seperti vaksin.
Dalam konteks trading, sinyal untuk INAF saat ini dinilai 'no' karena informasi dari laporan keuangan tidak cukup menentukan level entry exit yang jelas. Investor disarankan menilai laporan keuangan lebih lanjut serta dinamika harga saham sebelum mengambil keputusan. Rekomendasi manajemen risiko mengikuti pedoman risiko-imbalan minimal 1:1,5 untuk evaluasi lebih lanjut.