
Menurut analis ING Warren Patterson dan Ewa Manthey, harga minyak rebound setelah sebuah kapal dagang terkena serangan di Selat Hormuz. Meski kejadian tersebut memicu aksi jual singkat, momentum penurunan cenderung untuk tetap lemah karena aliran minyak melalui jalur penting ini mulai pulih perlahan. Ketidakstabilan keamanan regional dan risiko terkait dinamika pasokan di masa depan menjadi fokus utama bagi pasar.
Fokus investor tertuju pada bagaimana aliran di Hormuz bergerak kembali. Sinyal pemulihan aliran tersebut sebagian besar berasal dari kapal yang sempat terdampar dan akhirnya meninggalkan Teluk Persia, sehingga angka aliran terlihat meningkat dalam jangka pendek. Namun para analis memperingatkan bahwa pemulihan tersebut bisa bersifat sementara jika gangguan keamanan berlanjut.
Ketegangan tersebut juga menyoroti risiko berlanjutnya perlambatan arus kapal serta potensi perubahan dinamika pasokan di masa mendatang. Opsi kebijakan dan respons pasar akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan di area geografis yang sangat sensitif ini. Secara umum, para pelaku pasar tetap bersikap hati-hati karena faktor geopolitik bisa mengubah arah aliran minyak secara tiba-tiba.
Di saat yang sama, pergerakan harga sempat turun tajam dan kemudian berhenti turun setelah laporan adanya kapal yang terserang di Hormuz. Hal tersebut menegaskan keadaan rapuh gencatan senjata dan risiko terhadap akses jalur pelayaran di Teluk Persia. Pasar menilai bahwa gangguan di wilayah tersebut bisa memicu volatilitas lebih lanjut pada harga minyak.
ICE Brent membalikkan kerugian pada hari itu, dengan penutupan harga lebih dari 2% lebih tinggi dibanding sesi sebelumnya. Meskipun rally singkat terjadi, volatilitas tetap tinggi karena dinamika pasokan rentan terhadap berita geopolitik. Pasar juga mengamati bagaimana perubahan kebijakan OPEC dapat mempengaruhi keseimbangan supply-demand dunia.
Secara umum, momentum pasar masih cenderung turun meskipun ada pemulihan singkat, karena aliran pasokan melalui Hormuz diperkirakan meningkat ketika kapal-kapal yang terdampar keluar. Namun ketidakpastian geopolitik tetap membatasi potensi upside dan menjaga nada tetap hati-hati di kalangan trader.
Rantai pasokan minyak menjadi fokus utama evaluasi risiko bagi produsen dan konsumen global. Ketidakpastian di wilayah Hormuz dapat mengubah tempo aliran minyak dan memicu volatilitas harga yang lebih besar. Pasar menilai sejauh mana aliran dapat tetap stabil jika gangguan geopolitik terus berlanjut atau memburuk.
OPEC menghadapi tantangan tambahan setelah UAE memilih keluar dari kelompok, sementara Irak menekan kuota produksi untuk periode mendatang. Irak memperingatkan bahwa jika permintaan tidak dipenuhi, mereka bisa merombak keanggotaan. Produksi Irak diperkirakan mencapai sekitar 4,7 juta barel per hari, menambah dinamika pasokan global yang sudah rapuh.
Secara jangka panjang, dinamika tersebut menambah narasi surplus untuk 2027 dan meningkatkan volatilitas pasar minyak. Para analis menyarankan kehati-hatian bagi trader karena ketidakpastian kebijakan jangka menengah dapat menciptakan peluang volatilitas yang signifikan. Investor perlu memperhatikan aliran pasokan serta keputusan kebijakan OPEC secara berkala untuk memahami arah harga ke depan.