Indosat Tbk (ISAT) mencatat pemulihan kinerja yang menarik perhatian pelaku pasar pada 2025. Laba bersih perusahaan naik 12% secara tahunan menjadi Rp5,5 triliun, didorong oleh perbaikan dinamika persaingan harga dan lonjakan ARPU. Pendapatan total juga terlihat stabil meski beban operasional menurun dan efisiensi biaya berlanjut, sebuah sinyal bahwa model bisnis tetap kuat di segmen inti. Laporan ini disusun oleh Cetro Trading Insight untuk pembaca awam yang ingin memahami arah perusahaan tanpa jargon bertele-tele.
Secara operasional, Indosat menunjukkan kinerja EBITDA yang kuat: Rp26,59 triliun dengan margin sekitar 47%. Laba usaha berada di level Rp10,8 triliun, didorong oleh pertumbuhan pendapatan sekitar 1% year-on-year dan efisiensi beban yang turun 10% yoy. Kontribusi dari segmen cellular tetap menjadi penopang utama, meskipun bagian MIDI dan telekomunikasi tetap juga menyumbang pertumbuhan.
Analisis ini juga menilai bahwa Indosat memiliki peluang untuk mempertahankan momentum menuju panduan 2026, yakni pertumbuhan pendapatan dan EBITDA di kisaran menengah hingga tinggi satu digit. Dalam catatan, banyak katalis berasal dari FiberCo yang akan meningkatkan kapasitas fiber-to-the-home FTTH serta memanfaatkan permintaan pasar terhadap layanan serat rumah. Stockbit menyoroti bahwa angka-angka 2026 cukup optimis, meskipun ISAT tetap mempertahankan kendali operasional meski tidak mengonsolidasikan kinerja FiberCo. FiberCo akan menyediakan dana sekitar 700 juta USD pada kuartal II atau III 2026 dari transfer jaringan fiber optik, yang memperkuat potensi pendapatan ISAT tanpa mengubah struktur konsolidasi.
FiberCo menjadi katalis utama dalam strategi jangka panjang ISAT. Dengan kepemilikan 45%, FiberCo diharapkan mempercepat ekspansi jaringan FTTH dan memanfaatkan permintaan pasar yang kuat terhadap layanan serat rumah. Meski tidak dikonsolidasikan secara penuh, kehadiran FiberCo tetap memperbesar peluang pendapatan bagi ISAT melalui kemitraan operasional dan peningkatan kapasitas.
GPU-as-a-Service atau GPUaaS menjadi lengan layanan berteknologi tinggi yang diandalkan perseroan untuk mendiversifikasi sumber pendapatan. Layanan ini diproyeksikan menjadi sumber pertumbuhan baru di masa depan, memanfaatkan kebutuhan data center dan solusi computasi awan di segmen korporasi. Keberadaan GPUaaS diharapkan memperkuat pertumbuhan laba seiring peningkatan ARPU dan efisiensi operasional.
Secara keseluruhan, dukungan dari FiberCo dan GPUaaS sejalan dengan panduan 2026 yang disampaikan dalam riset Stockbit. Penguatan layanan FTTH dan layanan data berteknologi tinggi diproyeksikan menjaga momentum pendapatan, meski ISAT terus menghadapi persaingan harga yang signifikan. Investor disarankan memantau progres realisasi investasi FiberCo serta adopsi layanan GPUaaS, karena keduanya akan menentukan arah laba dan margin di tahun mendatang.
Analisis kinerja 2025 menunjukkan status sebagai pendorong utama laba bersih dan margin. Total pendapatan mencapai Rp56,51 triliun, dengan kontribusi terbesar berasal dari segmen selular sebesar Rp47,35 triliun, diikuti MIDI Rp8,34 triliun dan telekomunikasi tetap Rp817,6 miliar. EBITDA naik tipis 0,8% menjadi Rp26,59 triliun, dengan margin EBITDA dipertahankan di 47%.
ARPU yang meningkat menjadi sekitar Rp44 ribu per pengguna menjadi pendorong utama pertumbuhan laba bersih, tercatat sebagai rekor tertinggi sejak 2022. Kinerja cash flow juga membaik meski beban pokok pendapatan meningkat 4% yoy, karena efisiensi beban operasional menurunkan tekanan biaya. Secara keseluruhan, perbaikan dinamika persaingan harga di industri telekomunikasi turut menjadi faktor kunci.
Melihat ke depan, Indosat menilai masih ada ruang untuk pertumbuhan laba di 2026 melalui kanal fiber dan layanan berteknologi tinggi. Panduan mid-to-high single-digit untuk pendapatan dan EBITDA menjadi fokus utama, didorong oleh aliran dana FiberCo dan peningkatan layanan GPUaaS. Meski demikian, investor perlu menyadari bahwa FiberCo tidak dikonsolidasikan penuh sehingga faktor non-konstitusional tetap mempengaruhi kalkulasi nilai perusahaan.