Arus Dana Asing Pulih di Pasar Saham Indonesia: IHSG Stabil Meski Volatilitas Meningkat

Arus Dana Asing Pulih di Pasar Saham Indonesia: IHSG Stabil Meski Volatilitas Meningkat

trading sekarang

Ini adalah momen krusial bagi pasar saham Indonesia, ketika arus dana asing yang selama Januari cenderung melemah mulai kembali mengalir. Laporan eksklusif dari Cetro Trading Insight menilai momen ini sebagai indikator awal perubahan sentimen di tengah tekanan yang mereda. Kami melihat potensi perbaikan pasar yang bisa menjadi landasan bagi langkah-langkah berikutnya.

Menurut data yang dirilis OJK, net buy asing pada Februari mencapai Rp0,36 triliun, berbalik arah dari net sell Rp9,88 triliun pada Januari. Hasan Fawzi, Pejabat Sementara Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, menegaskan bahwa perubahan arus modal ini mencerminkan perbaikan sentimen di tengah situasi global yang masih dinamis. Fenomena ini dianggap sebagai sinyal awal bahwa tekanan di pasar mulai berkurang.

Meski IHSG memang mengalami tekanan, arus masuk asing memberikan bantalan terhadap volatilitas yang masih tinggi. IHSG pada 27 Februari 2026 ditutup di 8.235,49, mencatat koreksi bulanan sebesar 1,13 persen dan penurunan 4,76 persen secara year-to-date. Data ini memperlihatkan dinamika pasar yang sedang menyeimbangkan antara sentimen global dan kondisi domestik.

Situasi ini menegaskan bahwa pasar sedang bertarung antara optimisme terhadap arus modal asing dan tantangan volatilitas yang dipicu faktor eksternal. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menghadapi tekanan bulanan yang relatif terkendali meski kisaran pergerakan masih tinggi. Pada akhirnya, faktor likuiditas menjadi kunci pemulihan yang sedang berlangsung.

Secara rinci, RNTH (rata-rata nilai transaksi harian) sepanjang Februari mencapai Rp25,62 triliun, tetap di atas garis Rp20 triliun sejak Agustus 2025. Kondisi ini menunjukkan likuiditas pasar yang relatif kuat, mendukung kestabilan hingga potensi pergerakan yang lebih mantap. Lembaga pengawas menilai likuiditas yang tinggi ini sebagai bantalan terhadap volatilitas.

OJK menegaskan akan terus memantau dinamika pasar dan berkoordinasi dengan Self-Regulatory Organization (SRO), Bursa Efek Indonesia, KSEI, dan KPEI, serta pelaku pasar untuk mengambil langkah kebijakan yang diperlukan jika volatilitas meningkat. Meski demikian, volatilitas kembali meningkat pada awal Maret 2026 akibat eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah. OJK juga menekankan pentingnya koordinasi lintas lembaga untuk menjaga stabilitas dan kepercayaan investor.

Risiko Geopolitik dan Strategi Regulator untuk Stabilitas Pasar

Gejolak geopolitik di Timur Tengah telah menekan volatilitas pasar secara global, dan dampaknya terasa sampai pasar saham domestik. Investor menilai risiko eksternal yang belum jelas bisa mempengaruhi aliran modal jangka pendek. Dalam konteks ini, regulator memperketat pemantauan untuk menghindari gejolak berlarut.

Pembalikan arus modal asing menjadi sinyal bahwa sentimen pasar mulai membaik, meskipun dinamika global tetap menjadi bias utama. Para pelaku pasar menimbang bahwa perbaikan arus modal bisa menahan penurunan lebih dalam dan memberi ruang bagi perbaikan teknikal. Namun, faktor-faktor eksternal tetap menjadi risiko yang perlu diwaspadai.

Hasan Fawzi menegaskan komitmen OJK untuk melanjutkan kebijakan yang adaptif dan koordinasi dengan SRO serta pelaku pasar. Langkah tersebut ditujukan untuk menjaga stabilitas likuiditas dan kepercayaan investor di tengah volatilitas. Laporan ini menekankan bahwa respons regulator akan mengikuti dinamika pasar untuk mengurangi risiko jangka pendek.

broker terbaik indonesia