Menurut laporan dari Cetro Trading Insight, analis ING James Smith menilai bahwa jalur inflasi Inggris sangat bergantung pada dinamika harga energi. Proyeksi saat ini menunjukkan puncak singkat di sekitar 4% jika harga energi tetap pada level saat ini, sedangkan skenario dasar (base case) menempatkan puncak di sekitar 3,5% pada September. Analisis ini menekankan bagaimana fluktuasi energi menjadi penggerak utama kurva inflasi di masa mendatang.
Secara jangka pendek, inflasi diperkirakan mulai melandai karena efek saat ini dari perubahan harga energi pada perbandingan tahunan. Ofgem diperkirakan akan mengubah batas harga rumah tangga pada Juli, yang akan menjadi momen untuk melihat dampak nyata dari harga gas alam terhadap biaya listrik. Menurut proyeksi, tagihan energi rumah tangga mungkin melonjak sekitar 25% pada Juli dibandingkan bulan sebelumnya, sehingga harga layanan yang bergerak lebih luas juga terdorong.
Ketika harga energi mengikuti jalur yang lebih stabil melalui kuartal kedua, puncak inflasi diperkirakan bisa bertahan di kisaran 3,5% hingga 4% pada musim gugur. Kerangka teknis turut dipengaruhi oleh minyak sekitar 100 dolar per barel dan gas alam di kisaran 50–55 euro per MWh, yang membentuk asumsi utama bagi proyeksi. Dalam konteks kebijakan, meskipun pasar tenaga kerja masih rapuh, ING menekankan bahwa 2025 menjadi pedoman yang lebih tepat untuk respons ekonomi terhadap krisis saat ini.
Fokus utama analisis adalah bahwa perubahan cap harga energi rumah tangga yang ditetapkan Ofgem belum akan terlihat sepenuhnya sebelum Juli. Dampak harga gas yang lebih tinggi akan menambah biaya listrik dan menambah tantangan untuk menjaga inflasi inti pada jalurnya. Di bawah skema ini, pembaca Cetro Trading Insight didorong untuk memantau bagaimana data energi wholesale terbaru akan mempengaruhi dinamika biaya rumah tangga.
Jika gangguan pasokan energi mulai mereda di kuartal kedua dan harga energi mulai turun secara bertahap, puncak inflasi diperkirakan berada di 3,5% hingga 4% pada September. Menurut ING, perubahan ini tidak secara drastis menggeser kepastian kebijakan moneter karena konteks pasar kerja yang rapuh. Meski demikian, pergeseran harga energi di masa mendatang tetap menjadi faktor penting yang pasar perhatikan dalam poros kebijakan.
Selain itu, peningkatan biaya air dan layanan lainnya juga mempengaruhi komponen inflasi layanan. Inflasi layanan diperkirakan melandai secara bertahap seiring normalisasi tarif dan perubahan pola konsumsi rumah tangga. ING menekankan bahwa 2025 adalah kerangka waktu yang lebih relevan untuk menilai respons ekonomi terhadap krisis saat ini dan menghindari ekspektasi terlalu cepat terhadap pelonggaran kebijakan.
Secara keseluruhan, artikel ini menyoroti betapa tergantungnya jalur inflasi Inggris pada dinamika harga energi dan respons cap Ofgem. Perbaikan stabilitas energi sepanjang 2024 hingga 2025 bisa mengurangi tekanan harga secara luas dan menambah ruang kebijakan. Cetro Trading Insight menilai bahwa respons kebijakan tidak akan meluncur terlalu cepat meskipun data inflasi menunjukkan penurunan yang berkelanjutan.
ING menegaskan bahwa 2025, bukan 2022, adalah kerangka waktu utama untuk melihat bagaimana ekonomi merespons krisis saat ini. Peluang penurunan suku bunga secara bertahap bergantung pada bagaimana inflasi menyatu dengan data tenaga kerja dan dinamika biaya energi. Investor perlu menilai risiko terkait volatilitas energi dan bagaimana hal tersebut mempengaruhi proyeksi pendapatan rumah tangga.
Sebagai penutup, skenario energi yang lebih stabil membuka jalan bagi kebijakan yang lebih terukur dan komunikasi fiskal yang lebih jelas. Analisis ini menekankan pentingnya memantau data CPI inti, pergerakan biaya energi, dan dinamika kapasitas produksi untuk memahami jalur pemulihan. Cetro Trading Insight akan terus mengikuti pembaruan data energi agar pembaca memiliki gambaran yang lebih akurat tentang prospek ekonomi kedepan.