Nilai Rp273 triliun diperkirakan akan muncul sebagai kebutuhan modal kerja untuk anak usaha pada 2026. Angka ini mencerminkan besaran kas yang diperlukan untuk mendanai pembelian bahan baku, persediaan barang jadi, serta biaya operasional harian. Siklus operasional yang luas di grup dipengaruhi oleh permintaan pasar, dinamika produksi, dan struktur rantai pasok yang kompleks.
Penjualan yang berfluktuasi serta periode penagihan dari pelanggan memengaruhi arus kas masuk. Di sisi lain, tempo pembayaran kepada pemasok dan biaya keuangan juga menjadi variabel kunci. Ketergantungan pada rantai pasok global menambah kerumitan manajemen modal kerja, sehingga diperlukan pemantauan ketat terhadap rencana kas.
Pemahaman terhadap komposisi modal kerja membantu manajemen menilai risiko likuiditas. Ketidakpastian ekonomi dan perubahan kebijakan fiskal dapat mengubah kebutuhan modal secara signifikan. Oleh karena itu, perencanaan jangka panjang perlu disertai skenario sensitivitas terhadap pertumbuhan penjualan, biaya produksi, dan fluktuasi kurs.
Untuk mengatasi kebutuhan modal kerja yang besar, manajemen sebaiknya mengoptimalkan siklus kas melalui inovasi pembiayaan dan distribusi kas. Praktik cash pooling antar unit dapat memadukan surplus kas dengan kebutuhan di anak usaha yang berbeda. Penerapan fasilitas pembiayaan jangka pendek dan fasilitas supply chain finance bisa menurunkan biaya pinjaman.
Evaluasi opsi pendanaan perlu mempertimbangkan profil risiko setiap anak usaha dan karakteristik industrinya. Diversifikasi sumber modal, termasuk pinjaman bank, obligasi korporasi, atau fasilitas non-dilutive, dapat meningkatkan likuiditas secara keseluruhan. Penggunaan hedging untuk mata uang dan bunga juga relevan jika operasi melibatkan lintas negara.
Pelaksanaan rencana modal kerja membutuhkan koordinasi lintas fungsi, termasuk keuangan, operasional, dan pemasaran. Penerapan kebijakan kredit yang lebih efektif dapat mempercepat arus kas masuk tanpa mengorbankan penjualan. Akhirnya, pelaporan dan monitoring berkala menjadi kunci untuk menyesuaikan proyeksi modal kerja seiring perubahan kondisi makro dan operasional.