
Analisis TD Securities, oleh Ryan McKay dan Bart Melek, menyoroti rebound tajam aliran minyak mentah dan produk minyak dari Timur Tengah. Meski rebound ini nyata, para analis menilai lonjakan tersebut bersifat sementara karena minyak yang terjebak di pelayaran wilayah Teluk sedang keluar secara bertahap. Secara umum, meskipun ekspor meningkat dan beberapa pemulihan produksi terjadi, defisit minyak mentah plus produk tetap signifikan dan mendukung premis pasar yang lebih ketat di musim panas.
Arus aliran minyak diperkirakan bertahan pada level sekitar 7 juta b/d pekan lalu dan mendekati 9 juta b/d di awal pekan ini. Namun, lonjakan ini dipandang sebagai sementara karena minyak yang terjebak di permukaan laut Gulf akan keluar seiring waktu. Lebih lanjut, estimasi produksi Timur Tengah melalui data frekuensi tinggi menunjukkan angka sekitar 17 juta b/d dalam beberapa hari terakhir, dengan sekitar 11 juta b/d yang terkurung, sehingga pemulihan 2–3 juta b/d pada Juli bisa saja terjadi jika laju saat ini berlanjut.
Meski arus yang lebih tinggi masih berlanjut, defisit crude plus product berada di kisaran 3,5–4 juta b/d dan diperkirakan membesar seiring habisnya pasokan floating yang lebih mudah diakses serta perlambatan rilis SPR menuju Juli. CTAs (Commodity Trading Advisors) telah menjadi penjual marginal di seluruh spektrum energi, meskipun posisi pendek di Brent telah mencapai level ekstrem. Karena pasar tetap ketat sepanjang musim panas, setup untuk harga minyak yang lebih tinggi tetap sangat kuat, demikian analisis Cetro Trading Insight.
Prospek harga minyak dipaparkan sebagai akibat utama dari ketatnya pasar yang berlangsung sepanjang musim panas, yang menambah dukungan bagi potensi kenaikan. Meski ada pemulihan arus, faktor ekonomi global dan dinamika geopolitik menambah risiko bagi pergerakan harga. Cetro Trading Insight menekankan bahwa dinamika pasokan dan cadangan strategis akan menjadi pendorong utama pergerakan harga minyak dalam beberapa minggu ke depan.
Risiko utama tetap berasal dari potensi gangguan pasokan terkait ketegangan regional di sekitar Hormuz, serta faktor-faktor geopolitik lain yang bisa mengubah arus perdagangan dengan cepat. Meski arus aliran meningkat, volatilitas harga bisa meningkat saat persediaan floating menipis atau rilis cadangan negara bagian melambat menuju Juli. Dalam konteks ini, pasar minyak cenderung menunjukkan pendinginan sesaat namun tetap rentan terhadap gejolak jangka pendek yang bisa memicu perubahan harga.
Karena artikel ini tidak menyertakan data harga terkini untuk menentukan level entry exit yang spesifik, sinyal trading untuk instrumen minyak tidak bisa ditetapkan saat ini. Diperlukan harga saat ini, level risiko, dan target keuntungan yang jelas agar sinyal dapat disusun secara konsisten dengan aturan risk-reward minimal 1:1,5. Oleh karena itu, sinyal tetap "no" dengan fokus pada pemantauan terhadap data produksi, persediaan, dan dinamika rilis cadangan di masa mendatang.