Ketegangan yang meningkat di Timur Tengah, termasuk penutupan Selat Hormuz dan penyitaan kapal berbendera Iran, menjadi fokus utama jelang putaran pembicaraan kedua antara Iran dan AS. Ketidakpastian regional ini menambah tekanan pada likuiditas pasar dan memicu pergeseran risiko. Para pelaku pasar memantau langkah-langkah diplomatik dengan cermat karena eskalasi bisa mengubah arus aliran modal ke aset defensif maupun spekulatif.
Di Wall Street, Indeks utama akhirnya berada di zona merah, sementara dolar AS mencoba menutup kenaikan sebelumnya meskipun sentimen pasar campur aduk. Pergerakan dolar relatif terbatas, membatasi volatilitas jangka pendek pada sebagian aset utama. Pelaku pasar menimbang data ekonomi dan komentar pejabat untuk mengukur arah kebijakan moneter serta dinamika likuiditas global.
Melihat rentetan data yang akan dirilis, DXY sempat mencapai titik tertinggi lima hari di 98.35 sebelum berbalik turun, mendekati level 98.00. Kalender ekonomi yang relatif tipis menyiratkan bahwa fokus utama akan bergeser ke komentar pejabat bank sentral dan perkembangan politik internasional yang dapat menambah volatilitas, terutama pada pasangan mata uang utama dan komoditas energi. Investor menilai risiko jangka pendek dengan seksama karena pernyataan kebijakan atau langkah diplomatik bisa memicu pergerakan harga yang cukup tajam.
EUR/USD memulai pekan dengan celah turun namun berupaya ditutup sekitar 1.1800, menunjukkan adanya retracement kecil di tengah tekanan dolar yang tidak menentu. Sinyal teknis jangka pendek menunjukkan volatilitas yang meningkat jelang rilis data dan pernyataan kebijakan dari pejabat bank sentral. Investor menunggu potensi perubahan sikap kebijakan dari bank sentral wilayah Eropa dan dinamika permintaan global terhadap mata uang utama.
GBP/USD berhasil kembali ke level 1.3500 dengan gain terbatas terhadap euro, menunjukkan pemulihan ringan di tengah kelemahan dolar secara umum. Pasar juga memperhatikan rilis angka tenaga kerja serta tingkat pengangguran yang diproyeksikan stabil pada 5.2% menurut angka ILO untuk February. Pergerakan ini menambah dinamika cross-rate dalam portofolio perdagangan mata uang.
USD/JPY naik di tengah pernyataan BoJ yang memberi sinyal kesediaan mempertahankan kebijakan suku bunga tanpa perubahan besar, meskipun pasar memposisikan sekitar 47 basis poin pengetatan pada harga pasar. Pasar juga akan menantikan laporan neraca perdagangan, ekspor, dan impor untuk memperkaya gambaran mata uang Asia serta menimbang arah risiko terhadap mata uang risiko. AUD/USD didorong oleh ekspektasi kenaikan suku bunga RBA meskipun sentimen pasar secara keseluruhan cenderung campur aduk.
WTI mengalami reli tertinggi hari ini, melonjak lebih dari 2% hingga sekitar $85.89 karena gejolak geopolitik menambah permintaan terhadap risiko aversif. Namun dinamika harga minyak masih dipersulit oleh potensi negosiasi ulang yang dapat menurunkan tekanan harga jika pembicaraan berlanjut menuju penyelesaian. Jika gencatan senjata tidak tercapai, risiko tahanan pasar menunjukkan potensi pergerakan bullish ke kisaran $90.00 dan lebih tinggi di masa mendatang.
Harga emas cenderung mendapat tekanan karena imbal hasil obligasi AS yang lebih tinggi, meskipun investor tetap memperhatikan likuiditas dan pelindung nilainya. Pasar logam mulia cenderung menahan diri di sekitar level yang memudahkan hedging; fluktuasi imbal hasil menambah biaya peluang untuk memegang aset tidak yield. Secara umum, dinamika ini mengarah pada pergeseran preferensi ke aset lain jika volatilitas memuncak.
XAUUSD, sebagai penanda risiko dan pelindung nilai, tetap berada di atas level kritis meskipun ada tekanan dari yield, dengan fokus investor pada kebijakan moneter dan potensi alih-alih risiko geopolitik juga kinerja mata uang utama. Dalam jangka pendek, volatilitas tetap tinggi karena adanya fluktuasi data ekonomi dan pernyataan pejabat bank sentral yang dapat menggiring arah pasar logam mulia juga forex. Investor juga menimbang volatilitas pasar keuangan secara keseluruhan saat alert geopolitik meningkat.