
Laba Bersih Rp516 Miliar 2025 Mora Republik Guncang Infrastruktur Fiber Nasional
Cetro Trading Insight mencermati 2025 sebagai babak penting bagi Mora Republik Tbk (MORA). Laba bersih Rp516 miliar tidak sekadar angka—ini sinyal kuat bahwa perusahaan berhasil mengubah performa finansial dari fase ekspansi menjadi profitabilitas yang berkelanjutan. Lonjakan hampir 96,5% dibanding periode sama tahun lalu menunjukkan momentum yang mumpuni di sektor infrastruktur digital. Di tengah lanskap persaingan, Mora menunjukkan kemampuan membangun nilai bagi investor dalam jangka menengah.
EBITDA perusahaan sekitar Rp2 triliun, meningkat sekitar 9,8% dibandingkan tahun sebelumnya. Pertumbuhan EBITDA didorong oleh tiga pilar utama yakni segmen Fiber to the Home FTTH, Enterprise, dan Wholesale. Dengan adanya efisiensi operasional dan peningkatan kapasitas, laba operasional memberikan fondasi kuat untuk ekspansi lebih lanjut.
Direktur keuangan Mora, Jimmy Kadir, menekankan bahwa peningkatan kinerja berasal dari kombinasi investasi berkelanjutan dan fokus pada segmen inti. Manajemen menegaskan bahwa strategi yang konsisten pada FTTH, Enterprise, dan Wholesale telah memperkuat posisi perseroan di pasar infrastruktur digital. Upaya tersebut juga diarahkan untuk menjaga momentum pertumbuhan sepanjang 2025 dan proyeksi ke depan.
Segmen FTTH berperan sebagai mesin utama pertumbuhan dengan lonjakan homepass lebih dari 1 juta, tumbuh sekitar 36% dibanding tahun sebelumnya. Pada akhir 2025, jumlah homepass mencapai lebih dari 1 juta, sementara pelanggan ritel FTTH meningkat sekitar 46% menjadi lebih dari 330 ribu pelanggan. Pelanggan Enterprise juga tumbuh sekitar 44% menjadi lebih dari 17 ribu pelanggan, menambah kontribusi pendapatan perusahaan.
Secara revenue, segmen FTTH/FTTX menyumbang sekitar 1,3 triliun rupiah, meningkat sekitar 38% dibandingkan periode sebelumnya. Sementara segmen Wholesale mengalami peningkatan kapasitas 18% menjadi 38 terabyte dan pendapatan yang berasal dari segmen tersebut naik 9% menjadi Rp876 miliar. Inisiatif ini sejalan dengan peningkatan kapasitas jaringan dan layanan ritel serta enterprise.
Di sisi infrastruktur, Mora mencatat panjang jaringan fiber optic per 31 Desember 2025 mencapai sekitar 58 ribu kilometer dengan kapasitas bandwidth sekitar 38 Tbps. Direktur Utama dan CEO Timotius Max Sulaiman menegaskan bahwa momentum pertumbuhan sehat tercapai melalui perluasan jaringan FTTH dan FTTX serta peningkatan kapasitas untuk memenuhi lonjakan kebutuhan konektivitas.
Pada 22 April 2026, perseroan menyelesaikan proses penggabungan usaha dengan PT Eka Mas Republik untuk membentuk platform infrastruktur fiber optic terintegrasi berskala besar. Merger ini diharapkan meningkatkan efisiensi operasional, memperluas cakupan layanan, serta memperkuat daya saing perseroan dan memberikan nilai tambah bagi pelanggan, karyawan, pemegang saham, dan para pemangku kepentingan. Pada 30 April 2026, setelah merger efektif, kinerja jaringan meningkat secara signifikan.
Penggabungan menghasilkan peningkatan signifikan pada basis operasi: homepass gabungan menjadi lebih dari 12,7 juta, panjang jaringan backbone dan akses menjadi lebih dari 166 ribu kilometer, serta pelanggan ritel menjadi lebih dari 2,6 juta dan Enterprise lebih dari 17 ribu pelanggan. Angka-angka ini menggambarkan amplifikasi kapasitas jaringan dan basis pelanggan yang siap memenuhi permintaan konektivitas nasional.
Dalam rangka menjaga momentum pasca merger, perseroan menargetkan perluasan cakupan jaringan FTTH dan FWA dengan tambahan 5 juta homepass, ekspansi FTTH ke 186 kota/kabupaten, serta perluasan jaringan FWA melalui pembangunan lebih dari 1.000 sites FWA. Proyek Rising 8 juga menjadi pilar utama, menghubungkan Jakarta, Batam, hingga Singapura melalui kabel bawah laut sepanjang 1.128,5 Km dengan teknologi repeater kelas atas di bawah laut.