MEJA membuka bab baru dalam ekspansi industri tambang dengan mengumumkan pembayaran uang muka sebesar Rp11,50 miliar untuk akuisisi 45 persen saham PT Trimata Coal Perkasa TCP. Ini menjadi sorotan utama di pasar secara langsung, menunjukkan tekad perusahaan untuk memperluas jejaknya di lini usaha tambang. Menurut Cetro Trading Insight, langkah ini menandai komitmen MEJA terhadap rencana akuisisi meski menghadapi dinamika regulasi dan valuasi yang transparan.
Pembayaran tersebut dilakukan pada 12 Februari 2026, menandai fase awal transisi kepemilikan yang perlu dipantau secara cermat. Struktur pembiayaan mencerminkan upaya MEJA menjaga arus kas sambil menegaskan bahwa transaksi ini bersifat jangka panjang. Dengan adanya uang muka, MEJA berharap mempercepat negosiasi akhir sambil menjaga kelangsungan operasional perusahaan tetap stabil.
Sesuai dengan pelaporan ke Bursa Efek Indonesia, Cetro Trading Insight menilai bahwa langkah ini menggarisbawahi strategi MEJA untuk memanfaatkan peluang di sektor tambang batu bara, sambil tetap menjaga kepatuhan pada regulasi pasar modal. Pembahasan terkait nilai akuisisi dan evaluasi final akan ditentukan melalui penilaian independen yang akan dilakukan KJPP, dan hal ini menjadi fokus analisis kami untuk fase mendatang.
Rincian pembayaran menunjukkan MEJA membayar uang muka Rp11,50 miliar untuk akuisisi 45% TCP, sementara pemegang saham pengendali sebelumnya menyetorkan Rp500 juta. Total pembayaran terkait transaksi mencapai Rp12 miliar, yang merupakan bagian dari total nilai kepemilikan yang akan dikurangi dari harga akhir akuisisi. Struktur ini mencerminkan keseimbangan antara komitmen finansial dan potensi pengembalian investasi di masa depan.
Nilai akhir akuisisi akan bergantung pada penilaian harga saham TCP yang akan dilakukan berdasarkan penilaian KJPP yang akan ditunjuk kemudian, sesuai regulasi yang berlaku. Pembayaran uang muka ini dicatat sebagai uang muka investasi dalam laporan keuangan, sehingga secara akuntansi mengurangi nilai akhir akuisisi jika transaksi lanjut. Mekanisme ini juga menandakan bahwa dana yang dibayarkan bersifat deposit sementara.
Pembayaran uang muka disertai jaminan bahwa dana tersebut akan dikembalikan jika transaksi tidak terlaksana, sehingga risiko finansial terhadap MEJA relatif terbatas. Dalam konteks keuangan perusahaan, hal ini menakar dampak terhadap arus kas jangka pendek dan kepercayaan investor terhadap kelanjutan rencana ekspansi. Pembahasan lebih lanjut mengenai progres regulasi akan mengikuti pembaruan BEI dan pernyataan resmi perseroan.
Secara keuangan, pembayaran uang muka ini diakui sebagai investasi awal dan tidak mengubah operasi harian MEJA dalam periode berjalan. Manfaat jangka menengah terasa ketika nilai akhir akusisi direvisi sesuai hasil penilaian akhir, namun risiko transaksi tetap mengundang evaluasi berkelanjutan terhadap struktur modal. Dari sudut pandang investor, langkah ini memberi sinyal bahwa MEJA menargetkan ekspansi melalui akuisisi aset tambang yang berpotensi meningkatkan kapasitas produksi secara bertahap.
Regulasi terkait pertambangan menjadi fokus utama, terutama karena TCP menunjuk MAM sebagai kontraktor tambang untuk eksploitasi batu bara di Sumatera Selatan. Target produksi 2026 adalah 1,5 juta ton, sesuai RKAB TCP yang telah disetujui Kementerian ESDM. Kebijakan ini menambah dinamika operasional sambil menuntut kepatuhan terhadap persyaratan perizinan dan lingkungan.
TCP telah mendapatkan pembeli siaga, Agro Energy Trading Pte Ltd, yang berarti volume produksi berpotensi terserap pasar secara lebih cepat. Meski demikian, kelanjutan rencana akuisisi sangat bergantung pada verifikasi regulasi, penilaian final, dan persetujuan pemegang saham yang terkait. Analisis dari Cetro Trading Insight menyiratkan bahwa progres ini perlu dipantau sebagai bagian dari strategi risiko dan peluang saham MEJA.